Kamis, 15 Februari 2018

Unilateral love 3 (Cerpen Ovin)

<<< LIHAT (Cerpen Ovin) Unilateral love BAGIAN 2 <<<

Unilateral love 3 (Cerpen Ovin)

Sore ini cakka main ke rumah oik. Dan sekarang mereka ada dikamar oik, cakka tiduran disamping oik

“ik, minggu depan anggota osis ke hutan kamu mau ikut?” tanya cakka
“dalam rangka apa kka”
“iseng, rio cuman mau menjelajah, Dan kita dapat isin dari pembina osis koq”
“males ah”
“Alvin ikut lho”

Oik pun bangun dan menatap cakka

“bener alvin ikut” tanya oik. Cakka mengangguk dengan senyuman
“aku mau ikut, aku kan asisten kamu”

Cakka lalu duduk, dan menghadap ke oik

“mau ikut sebagai asisten aku, atau mau ikut karna ada koko”

Oik malah nyengir.

“hehehe”

Cakka pun mengacak rambutnya

“kamu tuh yah, apa-apa alvin. Masuk osis juga karna alvin anggota osis”
“biarin”
“oik, kalau mau ngelakuin sesuatu tuh harus niat dari dalam hati. Bukan karna ada maunya”
“aku tuh niat masuk anggota osis”
“iya kamu niat masuk untuk ketemu terus ama alvin. Iya kan?”
“tuh kamu tau”
“tau ah aku ngantuk” kata cakka lalu kembali berbaring, dan menutup matanya
“mau nginep?” tanya oik lalu berbaring disamping cakka
“bundamu ada kan?” tanya cakka masih menutup matanya.
“gk, dia lagi keluar kota” jawab oik
“jawabnya ntar aja, aku ngantuk mau tidur” kata cakka lalu mulai masuk ke dalam mimpinya
“hm..” balas oik juga ikut tertidur

“cakka…cakka” panggil oik sambil menggoyangkan tubuh cakka
“apa” gumam cakka
“bangun” kata oik
“ntar ah ik, masih ngantuk”
“udah pagi tau. Gk mau kesekolah?”

Cakka bangun dan mengucek kedua matanya

“koq semalam kamu gk ngebangunin aku”
“aku gk tega, kamu tidurnya nyenyak banget”
“hm… yaudah aku balik dulu yah”
“iya aku tungguin yah jangan lama lho ntar telat”
“ok” balas cakka lalu segera mengayuh sepedanya menuju rumahnya. Sekalipun rumah cakka hanya beda beberapa rumah dari rumah oik tapi dia gk suka jalan kaki ke rumah oik

20 menit kemudian cakka sudah berada di depan rumah oik dengan motor sport-nya

“udah mandi kka?” tanya oik
“iyalah” jawab cakka
“udah sarapan?” tanya oik lagi. Cakka tersenyum
“udah telat ik, ayo cepetan naik” perintah cakka oik pun menurut Dan segera naik ke jok belakang motor cakka

Jam istirahat, oik pergi ke ruang osis. Mencari pujaan hatinya. Benar saja, sesampai di ruang osis, disana alvin sedang duduk manis dimejanya sambil membaca buku. Disamping meja alvin ada meja gabriel, gabriel juga sedang asyik dengerin musik. Oik menghampiri alvin menarik kursi rio yang kosong dan duduk disamping alvin

“hai, serius banget sih bacanya” sapa oik. Alvin hanya diam
“baca buku apa sih?” tanya oik. Alvin menutup bukunya dan memperlihatkan sampulnya pada oik
“Harry Potter? Kmu masih seneng aja baca buku itu” komentar oik, alvin kembali membaca buku
“aduh alvin cuek banget sih. Bikin aku gk bisa ngomong aja” batin oik
“vin, cakka bilang minggu nanti anggota osis semuanya pergi menjelajah di hutan”
“hmm…” balas alvin
“aku pergi lho”
“terus urusannya sama aku apa” tanya alvin ketus
“ik sabar” batin oik
“kamu pergi gk” tanya oik. Alvin menutup bukunya lalu menatap oik kesal. Oik tersenyum
“oik, kenapa sih kamu mau tau aku pergi atau gk. Itukan bukan urusan kamu” kata alvin lalu pergi. Gabriel membuka earphone-nya, menatap oik bingung
“dicuekin lagi?” tanya gabriel.

Oik mengangguk

“cinta emang kadang sulit ik” kata gabriel lalu kembali memasang earphone-nya. Oik menghampirinya dan melepas earphone gabriel
“kamu tuh yah. Dengar musik aja kerjanya. Tuh sivia lagi nyariin kamu. Gk beruntung banget sivia punya kekasih kayak kamu. Cuman sayang sama musik bukan sama sivia” kata oik lalu pergi
“sivia nyariin aku?” tanya gabriel pada dirinya sendirinya

Gabriel tersenyum

“pasti kangen” lanjutnya lalu pergi ke kelas sivia

Sesampai di kelas sivia, sivia sedang duduk sendiri dengan wajah yang kesal. Gabriel menghampirinya

“siang sayang” sapa gabriel lalu duduk disamping sivia dan merangkulnya, sivia mengibaskan tangan gabriel
“sayang, sayang. Aku bukan sayangmu” kesal sivia
“lho koq gitu! Via-chan jangan marah dunk”
“siapa yang marah. Aku kan lagi ngambek” kesal sivia
“eh iya itu maksud aku, jangan ngambek yah. Plis”
“aku gk akan ngambek tapi kamu harus janji”
“apa?”
“jangan selalu mentingin musikmu daripada aku”

Gabriel terdiam, satu menit saja tak mendengar musik dunianya terasa buram

“gk mau yaudah gampang kita putus aja” kata sivia lalu berdiri. Gabriel menahan lengannya
“iya deh aku mau. Ke kantin yuk” ajak gabriel. Ia tersenyum berharap sivia luluh oleh senyumnya
“aku pergi sendiri” kata lalu berjalan. Gabriel mengikutinya dari belakang
“via maafin aku yah” gabriel terus berusaha meminta maaf pada sivia
“kasihan juga iel, kalau fans-nya tau idolanya merengek kayak gini pasti aku bakal di demo” batin sivia ia pun tersenyum
“iya deh aku maafin. Tapi janji yah, jangan samain aku ama earphonemu itu. Jangan jadiin earphone itu selingkuhanmu” kata sivia. Gabriel pun tersenyum lalu merangkul sivia
“janji”

<<<Bagian 2                                                      Bagian 4 >>>

Unilateral love 2 (Cerpen Ovin)

<<< Unilateral love 1 (Cerpen Ovin) BAGIAN 1 <<<

Unilateral love 2 (Cerpen Ovin)

Lama bermain hari pun sudah mulai gelap. Cakka dkk sudah selesai main basket.

“vin kamu ama oik yah” kata cakka
“kenapa gk sama kamu aja? Kan kamu yang nyuruh dia kesini” tanya alvin lalu mengambil tasnya
“sorry tapi aku buru-buru” kata cakka lalu pergi
“dia lapang banget io” bisik gabriel pada rio. rio mengangguk
“kita duluan yah” pamit rio dan gabriel lalu pergi
“kalau kamu gk mau anter aku. Gpp koq aku bisa jalan kaki dari sini” kata oik
“jangan. Ntar kamu capek terus cakka marah-marah sama aku. Ikut aku” kata alvin lalu menarik tangan oik dengan kasar
“gini yah cara alvin lembutin cewe” batin oik tapi hatinya senang ini pertama kalinya ia naik motor bersama alvin
“makasih yah vin” kata oik saat turun dari motor alvin. Alvin hanya diam lalu pergi
“koq gk dibalas sih” tanya oik dalam hati

****

Pagi harinya, saat sampai disekolah alvin menghampiri meja cakka

“kka, apa sih maksud kamu kemarin di lapangan basket” tanya alvin. Gabriel yang asyik dengerin musik disamping cakka, bingung melihat alvin yang sepertinya sedang marah tapi tak ia pedulikan, ia tetap asyik dengan musik yang didengarnya
“maksud aku? Aku cuman mau, kamu menganggap oik” balas cakka disertai dengan senyumnya
“lalu kenapa kamu gk bisa buat oik menganggap kamu” tanya alvin.
“karna oik gk bisa sayang sama orang lain kecuali kamu. Dan apa salahnya kamu mencoba menganggap oik, lagipula tak ada gadis lain kan dihati kamu”
“kamu sendiri, juga tak ada kan”

Cakka menahan tawanya “aku punya segudang, jadi kumohon belajarlah menyayangi oik” katanya sambil menepuk bahu alvin lalu pergi. Gabriel pun melepas earphonenya


“cakka kenapa??” tanya gabriel
“mau ke toilet” jawab alvin lalu pergi. Gabriel mengangkat sebelah alisnya
“pada kenapa sih? Rio juga koq belum datang sih?” tanya gabriel lalu kembali memasang earphone-nya

****
“eh, ik cakka tuh” bisik ify ketika melihat cakka memasuki kelas mereka
“hai semua” sapa cakka
“hai kka” balas ify, sivia, dan oik. Ify pun pindah ke sesamping sivia, cakka pun duduk disamping oik
“bel masuk masih lama nih, mau ke kantin dulu gk?” tanya cakka. Oik lalu berbalik memandangi sivia dan ify, sivia dan ify pun berdiri
“ik, kita duluan yah” pamit mereka. Oik lalu menatap cakka
“atau kamu mau sendirian di kelas” tanya cakka
“yaudah kita ke kantin” kata oik lalu berjalan, cakka mengikutinya dari belakang lalu mensejajarinya langkahnya dengan oik
“oh iya pagi ini kamu lihat alvin gk?” tanya cakka
“gk emangnya kenapa?”
“koq tumben yah jam segini dia belum datang”
“apa dia sakit kka”
“alvin itu bukan tipe orang yang gampang sakit. Gk kayak kamu” ledek cakka. Oik lalu menyenggol cakka
“ih kamu tuh yah” kesal oik lalu menggembukan pipinya. Cakka menatapnya
“jangan gitu ah, jelek. Emang kalau kamu jelek alvin suka sama kamu” gombal cakka
“emang dimata alvin aku itu cantik”
“gk cantik tapi imuet”
“ah cakka masa’ sih” tanya oik. Wajahnya memerah. Cakka mengangkat bahunya
“asal kamu bisa seperti ini terus ik. Aku pasti berusaha untuk menyatukanmu dengan alvin. Bagaimanapun caranya, akan kubuat alvin sayang padamu” batin cakka
“woy ngapain ngelamun, nanti ketabrak tembok lho” kata oik
“siapa juga yang ngelamun. Sotoy deh”
“terus kalau gk melamun tadi kamu menghayal”
“oik, tadi itu aku jalan gimana sih”
“ih itu juga aku tahu”
“terus kenapa nanya”
“habisnya kamu diam terus”
“diam? Tadikan aku jalan gk diam”
“hikz… cakka maksud aku diam gk bicara. Bukan diam gk bergerak” kesal oik
“ngambek nih”
“tau ah” cakka pun merangkul oik
“udah kalau alvin lihat kamu ngambek. Pasti di tonjok aku karna aku udah bikin kamu kesal”

****

Hari ini sivia pergi kerumah ify, hanya iseng ify merasa bosan dirumahnya. Mereka berdua duduk digazebo belakang rumah ify

“oik, koq tega yah ama cakka” tanya sivia
“kenapa sih? Emang kamu suka sama cakka?” tanya ify balik
“yee, aku tuh cuman kasihan sama cakka dia udah baik sama oik tapi oik terus mengharapkan alvin. Dan juga kamu kan tahu gabriel masih status pacar aku”
“iya sih aku tahu. Tapi kamu gk usah segitu kasihannya juga sama cakka. Cakkanya aja berusaha tegar”
“hati oik itu terbuat dari apa sih. Koq bisanya dia gk ngerti perasaan cakka selama ini”
“yang oik tahukan dia hanya suka+sayang sama alvin”
“fy, mau gk bantuin supaya mereka itu bisa jadian”
“mereka? Maksud kamu cakka ama oik”
“iya”
“kayak kamu gk kenal oik aja. Dia itu keras kepala banget. Cakka aja yang hebat bisa buat oik nurut ama dia”
“iya sih”
“udah gk usah ikut campur masalah oik. Cakka pasti punya rencana sendiri kenapa sampai sekarang dia belum berhenti perhatian ama oik”


<< Bagian 1 <<                                                                                      >> Bagian 3 >>

Kamis, 30 Juli 2015

Welcome YUJIN

Welcome YUJIN…!!!

Mario haling

Rio haling

Ni tentang Perjalanan, Persahabatan, dan Masa Depan yang Indah

Masih ingatkah kalian dengan Idola Cilik 3 tahun 2010 lalu ?
Sebuah ajang Penyanyi cilik yang mana dua Artis YUJIN adalah nominantor dimasa itu.

Mario Stevano Aditya Haling, Nama bekennya “Rio Idola Cilik 3”. Finalis asal Manado kelahiran 24 Oktober 1997 ini dikenal dengan suaranya yang amazing serta gaya bernyanyi yang selalu membuat komentator tersenyum. nilai Plus buat Rio adalah tingkah tengilnya yang selalu ngangenin J wkwk, Sorry Yo…

Berawal dari Audisi ini, Rio bertemu dengan Alvin Jonathan Shindunata, atau Alvin Idola Cilik 3, Finalis asal Malang kelahiran 20 September 1998. Alvin ini dikenal cuek dan pendiam.

Perjalanan mereka di Idola Cilik Berakhir pada tanggal 24 April 2010 dengan Alvin sebagai TOP 3 dan Rio satu tingkat diatasnya, Runner Up.

Setelah Audisi Idola Cilik 3 selesai dan, Keduanya kembali melanjutkan Aktivitas seperti biasa, melanjutkan pendidikan sesuai jenjang masing-masing.

Meskipun begitu, Persahabatan mereka tetap terjalin sampai seterusnya…

Dan hari ini merupakan salah satu hari bersejarah yang akan selalu diingat oleh RiSE dan Alvinozta dimanapun mereka berada, Setiap dari Mereka pasti akan mencatat hari ini sebagai Anniversarry setelah hari Fanspagenya.

Hari ini adalah hari bahagia dimana Dua Sahabat yang kami cintai telah meluncurkan single perdana dalam Duo barunya, YUJIN.

Nama “YUJIN” diambil dari bahasa jepang yang artinya Persahabatan, dengan harapan segala bentuk Persahabatan yang ada didunia ini akan memiliki jalan untuk bahagia. YUJIN dibentuk pada tanggal 17 Oktober 2014 lalu. Namun, Sebelum mengeluarkan Mini Album, Yujin lebih dulu merilis single perdana berjudul “Mengenalmu”.

“Awalnya ikut Idola cilik seperti dibohongi, Saya kan kurang tertarik masuk televisi, Gambarannya sekedar lomba menyanyi saja, eh ternyata masuk televisi, tadi saja saya sempat grogi” kenang Alvin saat ditemui di KFC Kemang, Jakarta selatan.

Meski begitu dia senang bisa berduet dengan Rio di Duo barunya, selain ikatan persahabatan, sepertinya Rio memiliki cara sendiri untuk membuatnya tenang.

“Kalo sekedar menyanyi saja, saya memang suka. Tapi kalau sudah berhadapan dengan penggemar, kadang suka grogi. Beruntung sekarang nyanyinya duet sama Rio, jadi bisa mengurangi rasa grogi” lanjutnya.

Lain Alvin, lain lagi Rio, ketika ditemui di KFC Kemang, Jakarta selatan dan ditanya tentang masa kecilnya di Idola cilik, Rio justru memaparkan tentang Single perdana Yujin, yang mana lagu ini diciptakannya berdasarkan pengalaman Pribadi.

Lagu ini menceritakan tentang asmara remaja yang sering diperbincangkan di berbagai media dan dirilis dengan lebel Levites Production.

Rio juga mengaku cocok dan nyaman berduet dengan Alvin, Laki-laki asal malang yang sudah menjadi sahabatnya sejak lama dan diam-diam memiliki tingkat kejahilan yang sama pula dengannya.

“Meski kita jarang bertemu, kita sudah saling kenal sejak masih di Idola Cilik tahun 2009 sampai 2010, aku masuk 2 besar dan Alvin di 3 Besar. Tapi kita selalu bersama. Pas ditawarin untuk duet, Aku pilih Alvin karena Alvin sahabat aku yang cukup erat” tutup Rio saat ditemui di KFC Kemang, Jakarta selatan di acara Launching Single perdana duo Yujin, Selasa 28 Juli 2015


“So Sweet banget kan Persahabatan mereka ? Kedua kutub magnet yang berbeda memang tidak pernah dirasa sama, tapi mereka tidak bisa terlepas satu sama lain jika sudah berada ditempatnya”

Note : Catatan ini sebagai salam penyambutan kami pada dua jagoan keren kita @Riostevadit dan @IamAlvinJo_ juga Ucapan selamat datang untuk @YujinMusik dibelantika music Dunia.

#YujinMusik #LaguPertamaYUJIN #MengenalmuYUJIN #YUJINAddict.

Miftastevadit

Jumat, 27 Februari 2015

M.S.A.H

Kamu (M.S.A.H)

By : @Ietha_alfiany


Aku …
Tak butuh seribu kata indah untuk melukiskanmu
Panorama hidupku yang tidak akan pernah mati
Aku …
Tak butuh banyak sanjungan untuk menghargaimu
Kado terindah dari tuhan yang tak pernah terelakkan
Untukku… dan untuk mereka…
Tahukah kau …
Seberapa jauh aku melambaikan tangan
Kau tak pernah bisa kutinggalkan
Tahukah kau …
Seberapa keras aku mendiamkan diri
Kau tak pernah mau pergi


Banyak Orang . . . !

Rabu, 28 Agustus 2013

BECAUSE OF YOU (Cerpen)

Albi... Albi... Albi...

Entah sudah ke berapa kalinya Albi mendesah di 30 menit terakhir ini. Yang pasti, sudah lebih dari satu jam yang lalu ia merasa ada yang menumpuk dalam kepalanya. Semacam bahan peledak yang dalam hitungan detik saja akan meledak. Udara penat itu membuat ia terpaksa melewatkan jam istirahatnya. Ia tidurkan kepalanya yang terasa berat itu di atas tangannya yang terlipat di atas meja. Memejamkan mata, berharap dengan begitu rasa pusing itu hilang.

“Albi!”

Baru saja Albi merasa lebih baik dengan posisinya, suara cempreng seseorang mampir di telinganya. Membuat ia mau tidak mau mengangkat kepalanya dan memastikan siapa pemilik suara itu. Rayya. Teman baiknya itu tengah berdiri di samping mejanya.

“Keluar yuk! Lihat sesuatu yang amazing,” ajak Rayya, gadis berkulit putih itu tampak mengamati sahabatnya dengan lekat. “Kamu sakit, Al?” tanyanya melupakan tujuan awalnya dan duduk di sebelah Albi. Wajah Albi terlihat pucat.

Hanya tinggal satu senti saja tangan Rayya menyentuh kening Albi, saat Albi berdiri dan menghindari sentuhan itu. “Apa yang amazing, Ray?” tanyanya melupakan rasa nyeri yang berdenyut di kepala bagian belakangnya. Ia tidak suka melihat perempuan mana pun cemas karenanya.

Rayya mengernyit bingung, tapi seolah tak mau ambil pusing dengan tingkah Albi, ia segera berdiri dan menarik lengan Albi. Menyeret laki-laki yang selalu harum bulgari itu keluar kelas.

“Gadis-gadis itu sungguh terobsesi padamu.” Rayya menghentikan langkahnya tepat di ujung koridor sekolah.

Kepala Albi berdenyut lebih hebat. Ia bersandar di dinding kelas yang terasa bergoyang.

“Kemarin gue jalan bareng sama Albi.”

“Sebelum Albi jalan sama lo juga, dia jalan bareng gue.”

“Tiap hari gue pulang bareng sama dia.”

Albi bisa mendengar samar-samar suara gadis di depan loker itu sebelum akhirnya ia merasa ada yang berdenging di telinga kanannya. Repleks ia menutup kedua telinganya. Tubuhnya merosot saat ia merasa frekuensi getaran keadaan di sekitarnya semakin cepat.

Berputar. Ia merasakan perputaran yang begitu cepat. Albi menutup matanya rapat-rapat. Bibir bawahnya yang sama putihnya dengan kulit wajahnya, ia gigit kuat-kuat. Sakit sekali.

“Albi!” pekik Rayya yang baru menyadari keadaan mengenaskan sahabatnya, karena terlalu asyik menonton perang sengit ketiga gadis itu.

Mendengar suara jeritan Rayya, gadis-gadis itu menoleh ke arah sumber suara. Repleks bola mata mereka membulat saat melihat apa yang jadi objek kepanikan Rayya.

“Albi!” kompak. Menggema. Ketiga gadis yang sama-sama menyimpan rasa untuk Albi itu berlari menghampiri Albi.

“Kita ke UKS se―”

Rayya merasa tubuhnya didorong paksa oleh salah satu gadis itu, seolah hanya mereka yang berhak atas Albi kali ini. 'Heh! Siapa yang sahabatnya di sini? Dasar gadis-gadis gila!'

“Kita harus me―”

“Al, kamu kenapa?” gadis berambut lurus sepunggung yang Rayya kenal bernama Nami, dengan tanpa adab memotong ucapannya. Ia geram.

Albi tak merespon. Perutnya mual kali ini, dan apa yang gadis-gadis di hadapannya ucapkan tidak bisa ia dengar dengan baik. Ada yang menekan telinganya dengan kekuatan ekstra.

“Tolong beri aku celah atau Albi akan mati!”

“Sepertinya Albi harus ke UKS.”

Rayya benar-benar nyaris menangis. Ia tidak dianggap sama sekali, sementara ia yang paling mengerti kondisi Albi. Dan ia sama sekali tidak diberi celah untuk menyentuh sahabat baiknya itu.

Dengan sisa tenaga yang ada, Albi mendorong pelan gadis-gadis itu. Ia tidak butuh UKS. Ia perlu toilet untuk memuntahkan isi perutnya. Mual menyerangnya tanpa bisa diajak kompromi. Seolah semua rasa sakit yang ia rasa saat ini sudah bersekutu, bekerjasama untuk menyerangnya hingga payah.

Albi memasuki toilet yang sangat kebetulan tidak jauh dari tempatnya sekarang. Rayya dan gadis-gadis―yang menurut Rayya―gila, berhenti tepat saat pintu toilet tertutup dengan begitu keras. Guratan kecemasan itu belum mau terhapus sebelum akhirnya, setelah beberapa menit menunggu, pintu bewarna gading itu terbuka dan Albi berdiri di ambang pintu. Ia menyedihkan sekali!

“ALBI!”

*

Albi membuka matanya. Kepalanya masih terasa pusing, tapi setidaknya ia tidak merasakan ada rotasi besar-besaran lagi di sekitarnya, yang ia kenal sebagai kamarnya. Laki-laki beriris hitam bening itu meraba bagian dadanya yang entah kenapa terasa sesak.

“Kamu udah sadar?”

Kedua manik hitam itu berputar, mencari sumber suara. Rayya tampak berjalan memasuki kamarnya dengan membawa satu nampan berisi semangkuk bubur dan segelas air putih. Albi mengangkat tubuhnya dan bersandar di kepala tempat tidur.

“Dari awal aku tuh udah tahu kalo kamu itu udah gak sehat. Sampe-sampe, cuma karena lihat ketiga cewek gila, gila karena ngerebutin kamu yang payah ini aja kamu pingsan.”

Albi hanya menyeringai mendengar cibiran Rayya.

“Gak usah menyeringai gitu ah! Seringaian kamu tuh gak sebagus Edward Cullen, tahu,” protes Rayya yang diselipi dengan ejekan. Ia menyodorkan semangkuk bubur ke hadapan Albi. “Makan dulu, nih! Tadi kamu pingsannya lama banget. Kasihan tuh perut. Demo loh entar.”

Albi mengambil bubur itu. Menatapnya dengan nanar. Ia malas makan. Palingan beberapa jam lagi bubur itu akan berakir menyedihkan di westafel sebelum dicerna dengan baik.

“Ayolah! Aku udah susah-susah bawa kamu pulang, nunggu kamu sampe sadar, buatin kamu bubur juga, masa kamu gak mau terimakasih dikit aja dengan makan tuh bubur!”

Albi mengalihkan tatapannya pada Rayya yang sudah tampak lelah. Setelah itu ia mulai memakan bubur itu. Rayya tersenyum puas. Ia tahu Albi tidak pernah suka mengecewakan siapa pun.

“Buburnya enak. Terimakasih.”

Rayya mengangguk senang.

*

“Al, udah sore nih, aku pul―”
Baru saja Rayya hendak pamit saat Albi yang tengah asyik menikmati senjanya di belakang rumah, memotong perkataannya.
 
Rayya berjalan menghampiri Albi lalu duduk di samping laki-laki yang tampak begitu pucat itu.“Tapi ini udah sore, Al. Aku takut ibuku nyariin. Ortu kamu juga bentar lagi pulang, kan?”

“Bentar lagi aja, Ray. Kamu bisa ketemu ibu kamu tiap saat, nanti, besok, dan kapan pun kamu mau. Tapi aku belum tentu bisa lihat kamu kapan pun kamu mau.”

Rayya mengernyit. Ucapan Albi aneh sekali! Dan tanpa mau memprotes, akhirnya Rayya memutuskan untuk tetap di sisi Albi. Hatinya mengatakan bahwa Albi begitu membutuhkannya.

Hening

Hening

Hening

“Kemarin malam, kamu benaran jalan sama Nami, ya?” suara Rayya memecahkan keheningan itu.

Albi mengangguk.“Dia minta aku buat nganterin dia beli peralatan mading,” jelas Albi sedikit menoleh ke arah Rayya. Sejurus kemudian ia meraih tangan Rayya yang bebas. Hangat. Suhu tangan gadis itu sungguh kontras dengan suhu tubuhnya yang dingin.“Aku dingin banget!”

Kalau saja Albi tidak bilang dingin, Rayya akan dengan cepat menepis tangan itu karena dengan seenaknya mampir di tangannya. Bukan apa-apa, hanya saja, entah kenapa tiba-tiba saja ada yang berdesir dalam dadanya saat tangan itu menempel dengan tangannya.

“Terus, sebelumnya kamu ngajak Zia jalan juga ya?”

“Dia yang ngajak aku jalan, Ray,” alasan Albi jengah. Ia tidak suka Rayya membahas ketiga gadis itu.

“Dan kamu sering pu―”

“Itu karena motor Mey sedang diservice dan ia bilang tidak punya tebengan lain selain sama aku.” Seolah tahu apa yang akan Rayya tanyakan, Albi dengan rajinnya menjelaskan tanpa menunggu pertanyaan itu selesai.

“Sebenarnya kau tuh sukanya sama siapa, sih? Nami, Zia atau Mey?”

“Aku gak suka tiga-tiganya.”

Rayya menautkan kedua alis tebalnya tak mengerti. Ia menatap mata sayu Albi dengan lekat. Mencari maksud sesungguhnya dari balik mata, yang entah kenapa terlihat akan redup itu.“Terus, kenapa sekali aja kamu gak pernah bisa nolak permintaan mereka?”

Albi menggenggam tangan Rayya semakin erat. Nafasnya terdengar tidak beraturan. Dadanya tiba-tiba sesak.

“Kamu PHP!” desis Rayya tajam. Matanya dibiarkan memandang tangan kanannya yang digenggam Albi dengan begitu erat.

“Aku takut buat mereka kecewa,”desah Albi.

Rayya menepis kasar tangan Albi, tapi Albi tetap tenang dalam posisinya. Ia tahu Rayya menatapnya tajam kali ini. “Aku gak suka kamu php-in cewek. Mereka bakal lebih kecewa dari sekedar kamu nolak ajakan mereka! Kamu selalu bersikap seolah paling ngerti perasaan cewek. Tapi kamu―”

“Aku hanya ingin berbuat baik sebelu aku mati, Ray!” Albi lagi-lagi memotong kata-kata Rayya. Mata gadis itu masih penuh dengan kilatan kemarahan. Sorotan tajam itu masih menusuk bola mata Albi. “Aku gak akan pernah bisa balas perasaan siapa pun meski aku suka ketiga-tiganya. Aku gak akan pernah bisa, Ray. Hidupku―”

“Berhenti bicara soal kematian, Al! Kenapa kamu itu bersikap seperti seorang penderita kanker, hah? Meniere itu gak akan pernah bunuh kamu. Aku belum pernah mendengar penyakit itu membunuh seseorang. Jangan kamu jadikan penyakit itu alasan buat kamu nyakitin cewek. Aku gak suka!” Nafas Rayya turun naik saking emosi. Ia nyerocos sementara Albi memperhatikannya dengn putus asa.

Hening untuk beberapa saat.

“Aku pulang!” Rayya berdiri dari duduknya. Namun, selangkah Rayya berjalan menjauhi Albi, Rayya merasa tangannya digenggam dengan begitu erat. Dan sejurus kemudian ia merasa tubuhnya ditarik paksa hingga akhirnya merapat dengan tubuh laki-laki dihadapannya. Ia meronta untuk beberapa saat sebelum desahan nafas Albi yang terdengar menyakitkan itu bertepi di telinganya.

“Meniere memang tidak banyak membunuh orang, Ray. Tapi gagal jantung udah bunuh jutaan orang di dunia, dan mungkin aku salah satunya.

Sesaat saja rontaan Rayya berhenti begitu kalimat itu meluncur dari bibir tipis yang sudah kehilangan gincu merahnya itu menyapa gendang telinganya dan lurus menusuk jantungnya. Ia tercekat dan mulai kesulitan bernafas.

Sejak kapan?

Sejak kapan, Al?

SEJAK KAPAN kanu nyembunyiin yang satu ini dariku?!

Batin Rayya menjerit. Ia merasa dikhianati oleh rahasia Albi. Tangannya yang menempel dengan dada Albi terkepal, hingga sedikit meremas pakaian Albi. Ia menahan tangisnya agar tidak jatuh.

“Katakan kamu cemburu sama Zia, Nami dan Mey, Ray! Katakan kamu cemburu!”

Rayya menggeleng tegas. “Nggak! Aku gak pernah cemburu. Aku gak cemburu, Al!”

Albi merasa sesak di dadanya semakin bertambah, berpadu dengan rasa nyeri. “Katakan, Ray! Bilang kalau kamu cemburu!”

Rayya menggeleng lagi. Kali ini air matanya menetes. Ia membenamkan wajahnya lebih dalam lagi di dada Albi hingga detak jantung pemuda itu terdengar. Lemah sekali!

Albi megeratkan pelukan itu lebih erat lagi. Dadanya sakit bukan buatan.“Bilang kamu cinta sama aku, Ray. Bilang kamu cinta! Karena sungguh alasan aku tidak pernah bisa mencintai ketiga gadis itu adalah kamu. Semuanya karena kamu.” Suara Albi terdengar begitu lemah, selemah detak jantung yang Rayya rasakan.

“Aku cinta kamu!

“Aku cinta kamu, Ray!

“Bilang kamu cinta juga sama aku!

“Kamu cinta sama aku kan, Ray?!”

Rayya menangis semakin deras. Terisak hebat di dada Albi. Kali ini justru ia yang berbalik memeluk Albi, begitu sadar pelukan Albi mulai melonggar. Nafasnya juga mulai terdengar sulit, ia bernafas satu-satu. Dan jantung Albi mulai berdetak seperti jam kehabisan bateray. Pelan. Pelan. Pelan sekali. Hingga akhirnya―
“Aku gak cemburu, Al. Tapi aku takut kehilangan kamu. Dan percuma aku bilang, aku cinta sama kamu kalau akhirnya kamu pergi ninggalin aku.”

Lirih. Suara Rayya terdengar begitu lirih di balik air matanya yang tak henti mengalir. Beban di tubuhnya terasa semakin berat. Dan beban itu dingin tersentuh kulit tubuhnya.

“Albi... Aku gak suka kamu dekat dengan Nami, Zia, Mey dan cewek mana pun. Aku gak suka, Al. Aku cemburu Karena aku... Aku cinta sama kamu!”

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 - "Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran"

    Pada hakikatnya, dalam membuat keputusan, kita sebagai pemimpin seyogjanya harus mengutamakan nilai-nilai kebajikan dan kebutuhan pesert...