Rabu, 19 Juni 2013

Not a Fairy Tale (Cerpen Icil)

Gadis itu pulang, Kak. Kakak seneng, kan?" Acha berjalan memasuki ruangan bernuansa hijau cerah itu. Lalu duduk di tepi tempat tidur Alvin—kakaknya—setelah sebelumnya meletakan baskom berisi air hangat di meja di samping tempat tidur. Ia menatap lekat Alvin, lantas membiarkan tangannya yang lembut itu dengan telaten mengelap wajah Alvin dengan handuk kecil yang ia bawa bersama air kompresan tadi.
"Katanya kangen gadis itu, tapi kok tidur terus? Dia cuma punya jatah seminggu doang di sini, Kak," gumam Acha tanpa menghentikan pekerjaannya. Mengompres tubuh Alvin yang tetap mematung layaknya mayat hidup. Acha meringis mengakui semakin kecilnya tubuh itu, hingga tulang rusuknya seperti hendak berebutan keluar. Air mata Acha terbendung sempurna.

Dua minggu ini, Kakak semata wayangnya itu tak sadarkan diri, tertidur lama. Koma, begitulah tim medis menyebutnya. Virus yang mengambil alih fungsi tubuh Alvin, membuat Alvin terseret menuju dunia asing dan tak ada tanda-tanda ingin kembali. Ia sudah berjalan jauh menuju satu titik cahaya yang akan mengantarkannya menuju pintu Tuhan. Dan mungkin hanya beberapa langkah lagi sampai kaki itu benar-benar berpijak di atas cahaya terang yang jadi tujuannya.

Dan gadis itu. Gadis bernama Sivia yang selalu Acha angankan menjadi sang puteri yang mampu membangunkan pangeran dari tidur panjangnya itu. Sivia, gadis berwajah cantik yang selalu Alvin amati di balik jendela kamar ini. Gadis yang Alvin kagumi. Gadis yang tidak pernah tahu, ada Alvin yang begitu mencintainya.
Acha menoleh dengan cepat keluar jendela begitu ketipak-ketipuk suara sepatu dengan langkah pendek mengusik indera pendengarannya. Ia mendekat ke arah jendela. Gadis itu, gadis berpipi chubby, bermata sipit dan beralis tebal itu. Sivia. Baru hari ini setelah tiga hari kembali dari Aussie ia dengan langkah khasnya terlihat lagi di sekitar rumah gedong itu. Sayang, Alvin tidak melihatnya. Padahal Acha yakin, jika Alvin melihatnya, pancaran keceriaan gadis itu akan menular padanya. Membuat Kakaknya itu kembali bersemangat seperti sebelum gadis itu pergi ke Aussie untuk melanjutkan study-nya.

Acha buru-buru bersembunyi di balik dinding saat Sivia iseng berhenti dan terlihat menoleh ke arahnya. Ia mengerutkan kening. Sepertinya ia merasa diawasi. Raut wajahnya tampak kecewa, tapi setelah itu ia kembali tersenyum dan melanjutkan langkahnya, meloncati genangan air bekas hujan tadi pagi dengan ceria.

"Aku ingin kenal dia." Gumam Acha kembali membalikkan badan setelah tubuh berisi Sivia tidak lagi tertangkap penglihatannya.

"Sungguh gadis energik." Acha membereskan alat-alat yang sudah dikenakannya. Ia kembali mengancingkan kemeja Alvin, sebelumnya ia menatap prihatin tubuh yang sudah ditempeli alat-alat medis itu. Kamar ini sudah seperti UGD saja! Batinnya sedih.

*
"Gak bisa! Gak boleh, Ma, Pa! Kalian gak boleh nyerah. Acha yakin Kak Al bisa bangun lagi! Acha akan buat Kakak bangun lagi, Ma. Mama sama Papa gak boleh relain Kakak pergi gitu aja!" Acha menangis histeris. Tidak menerima keputusan orangtuanya yang sudah memutuskan untuk melepas semua alat medis yang menemani Alvin selama ini.
Wanita paruh baya itu langsung mendekap tubuh mungil Acha. Membiarkan gadis kecil itu tenang dalam dekapannya.

"Beri Acha waktu, Ma. Seminggu saja untuk buat Kak Al bangun lagi. Acha yakin, Acha bisa! Acha mohon, Ma," isak Acha penuh lirihan. Papa langsung saja meninggalkan tempatnya. Tak kuasa melihat adegan di hadapannya. Ia tahu Acha terlampau mencintai Kakaknya itu.

"Kasihan Kakak, sayang." Mama mengelus lembut kepala Acha. Tangis mengiringi tiap desahan nafas yang berhembus.

Dan semuanya bisu...

"Jika tidak, sampai besok saja, Mama..."

*
Dengan gelisah, Acha menunggu gadis itu di balik gerbang rumahnya. Perasaannya was-was. Ia hanya punya waktu lima belas menit lagi untuk bertemu dengan Sivia sebelum ia benar-benar kehilangan kakaknya. Lima belas menit lagi alat-alat medis itu dilepas, dan lima belas menit lagi Alvin akan benar-benar pergi. Ia harus segera menemukan Sivia. Hanya Sivia yang akan memberikan keajaiban untuk Alvin dan semuanya.

Sepuluh menit berlalu. Acha merasa kakinya lemas sekali. Air matanya perlahan meleleh membasahi pipi mulusnya. Ia membiarkan tubuhnya terduduk, tangannya mengepal besi gerbang rumah kuat-kuat. Terisak hebat. Sivia tidak akan datang.

Mama hanya menatap lirih gadis kecil itu. Sedih merambat hatinya. Memeluknya kuat hingga pecah berkeping-keping. Ia terduduk lemas di tepi tempat tidur Alvin. Dan hatinya pecah lebih hebat melihat putera sulungnya tak bereaksi sedikit pun. Tetap tenang dan damai dalam lelap panjangnya. Dan sebentar lagi ia akan membiarkan jagoannya itu menemukan kedamaian yang sesungguhnya di sisi Tuhan. Ia menangis dan Papa dengan sigap memeluk erat tubuh lesu isterinya itu.

"Hei!"

Acha mendongak. Menatap siapa yang berjongkok di hadapannya kali ini.

"Kamu kenapa?"

Lembut terdengar suara gadis itu. Sungguh lembut, halus menyapa gendang telinganya. Senyum cerianya menebarkan hawa positif dalam dada Acha. Ia buru-buru menghapus air matanya dan segera berdiri. Tersenyum bahagia. Gadis yang rupanya Sivia itu mengernyit bingung dan ikut berdiri.
"Kak, ikut denganku!" Dengan semangat, Acha membuka gerbang dan menarik Sivia masuk ke dalam rumahnya. Sivia hanya pasrah saja mendapat perlakuan itu. Ia tidak mengerti apa-apa. Ia tidak tahu apa-apa tentang orang yang menariknya saat ini.

"Aku mohon, Kak, buat Kak Alvin bangun," pinta Acha saat ia masuk ke dalam kamar Alvin. Serentak, Mama, Papa dan dokter menyingkir, memberi jalan untuk gadis yang hanya dalam angan Acha, akan memberikan keajaiban itu.
Sivia membiarkan matanya yang semula hanya terfokus pada Acha untuk beredar mengelilingi tiap sudut ruangan itu, dan berhenti tepat pada tubuh kurus yang saat ini terbaring tanpa daya di tempat tidur. Ia terlonjak kaget. Dadanya spontan dihantam sesak bertubi-tubi. Air matanya terbendung, dan meluncur tanpa ampun. Perlahan kakinya ia seret paksa untuk mendekati tubuh itu. Lalu duduk di sampingnya.

"H-hai!" suara seraknya tertahan oleh isak tangis. Ia menarik nafas dalam-dalam sebelum melanjutkan kata-katanya. "Pantesan aja kemarin-kemarin aku gak lihat kamu di balik jendela lagi. Rupanya keadaan kamu seperti ini." Sivia menatap wajah Alvin dalam. Terakhir kali ia melihatnya, wajah itu masih terlihat segar bugar, meski pucatnya tetap sama.

"Pas balik dari Aussie, satu hal yang aku inginkan adalah melihatmu di balik jendela itu." Sivia melempar pandangannya keluar jendela. Dulu sebelum ia pergi ke Aussie, ia memang tahu kalau ia sering diawasi oleh seseorang. Dan dia laki-laki di hadapannya kali ini.

"Hei, Al-Alvin!" Ia ragu menyebut nama yang baru dihafalnya itu. "Bangun yuk! Kali ini aku di dekatmu. Kamu bisa mengamatiku dari dekat." Perlahan tangan halus Sivia meraih tangan kurus Alvin yang hanya tulang berbalut kulit itu. Sivia bisa merasakan tulang-tulang yang dulu kokoh merengkuh orang-orang yang disayanginya itu. Ia menangis.
Alvin tetap bergeming. Tak ada tanda-tanda akan bangun seperti yang diharapkan Acha. Sivia melihat ada setetes air mata yang muncul di sudut mata Alvin. Menetes dan melaju perlahan membasahi bantal biru itu. Dan saat itu lengkingan panjang yang berasal dari monitor pendeteksi detak jantung Alvin berbunyi dengan begitu keras. Membuat semuanya spontan mendekat. Tapi tidak untuk Acha. Ia kecewa berat dan terduduk lesu di pojok kamar. Membiarkan orang-orang itu melakukan apa pun yang mereka mau. Sivia beringsut mendekati Acha, berjongkok dan memeluknya erat.

"Maafkan aku. Tapi ini bukan dongeng, aku bukan seorang puteri yang bisa membangunkan pangeran dari tidur panjangnya."

Acha terisak hebat. Mengeratkan pelukannya pada gadis itu. Sivia memang tidak memberikan keajaiban untuk kakaknya dan yang lainnya, tapi mungkin ia bisa dijadikan sandaran seperti sekarang ini.

"Aku yakin air mata itu air mata bahagia!"


TAMAT.

I WILL ALWAYS LOVE YOU..

              Terdengar bunyi suara petikan gitar yang merdu sedang dimainkan.Ify yang sedang berjalan melewati aula sekolah mendengar suara itu.Ify penasaran siapa yang sedang memainkan Gitar dgn merdunya.Lalu Ify mengintip dari celah jendela.

                Ify yang saat itu sedang mengintip dari celah jendela aula sekolah sangat terpesona dgn kepiawaian seorang anak lelaki yang bermain Gitar.Namun Ify hanya bisa melihatnya dari belakang.karena lelaki itu duduk membelakangi jendela tempat Ify mengintip.

                “Ahh..Sial banget si...Balik dong...” Gerutu Ify dalam hatinya
                Namun Tiba2 Ify yang sedang mengintip itu mendengar suara orang datang.Buru2 Ify langsung ngumpet di toilet dekat Aula itu.Ify yang sedang ngumpet itu sempat mendengar percakapan yang ada di Aula itu..

                “Woy Bro...Sendiri aja loe disini....” Ucap salah seorang Pria..
                “Iya ni..Gue lagi main Gitar aja...” Jawab sang lelaki yang sedang memainkan Gitar
                “Ajak2 dongg..Kalau main,..Sendiri aja..Nanti kesambet lohh..” Ejek salah satu temannya
                “Gue kan butuh Privasi juga...hahahaa...” Jawab kembali lelaki yg bermain Gitar itu
                “Wooo...Mentang2 abis di Putusin....:P” Ejek temannya sambil mengacak2 rambutnya lelaki itu..
                Ify yang tengah di dalam Toilet itu khawatir kalau tiba2 anak2 itu masuk ke Toilet..Karena tanpa sadar Ify salah memasuki Toilet..Ify malah memasuki Toilet Laki2...

                “Waduhh,..Mampus gue...Salah masuk lagi....” Ucap Ify dengan gemetar..
                “Eh2 bentar ya gue ke Toilet dulu...Kebelet...” Ucap salah satu anak laki2 yang sedang ngumpul..
                Saat Lelaki itu memasuki Toilet..Ify yang mendengarnya langsung Panik...
                “Ya Tuhan...Jangan sampe ketauan gue...Abis gue kalau ketauann..” Ucap Ify dalam hati..
                Lelaki itu ternyata adalah lelaki yang sedang main Gitar tadi...Lelaki itu lalu masuk ke WC yang sebelahnya ada Ify sedang ngumpet..

                “Ahhhh...lega juga....” Ucap Lelaki itu Sambil terdengar suara Air mengalir dari toilet itu..
                “Mampus gue..Mampus Gue...”Ucap Ify dalam hati dengan ketakutan..
Tidak lama..Mucullah Teman2  lelaki tadi...
                “Lama Amet u Yo...” Ucap salah seorang teman lelaki tadi..
                “Sabar ahhh...Gue kebelet dari tadi ni..” lelaki itu menjawab..
                “Eh Bro...Tadi kayaknya gue sempet liat ada orang deh tadi yang Ngintipin loe dari jendela di depan tadi..”Ucap temannya itu kepada lelaki tadi..
                “Hah???yang bener u...masa iya??? Tp kok gue gtau ya??-.- “ Jawab sang lelaki itu..
                “Aduhh...Mati gue..Knp bisa ampe ketauan lagi,...” Ify dalam hati..
                “Kayaknya si tadi gue..Cuma gtau juga...Jangan Jangan......SETANNN...” Ucap temannya itu...
                Alhasil mereka semua akhirnya Kabur dan Lari keluar dari WC itu...dan mereka pun segera meninggalkan Aula itu,..
                “Sialan mereka..gue di bilang Setan..”.Gerutu Ify
                Ifypun akhirnya bisa meninggalkan WC dan Aula itu...Namun di tengah perjalan pulangnya Ify masih sangat penasaran...Siapa si..Lelaki tadi...Sampai pada tengah jalan...
                “Tiinnnnn...”Bunyi  Klakson Mobil..
                “hah...Maaf pak...”Ucap Ify yang terjatuh kepada supir mobil tadi.
                “Jalan yang bener dong...Mau mati loe???” Ucap supir itu dgn marahnya..
                Mobil itu pun pergi...Ify yang terjatuh tadi...Sulit untuk berdiri..karena kakinya keseleo karena dia jatuh tadi,.
                “Aduh,.Sakit banget...Gmn mau pulang ini....Berdiri aja susah...” Ucap Ify
                Tiba2 ada seorang lelaki yang naik Motor menghampiri Ify...Dan ternyata ketika lelaki itu membuka Helmnya..
                “Ify...Loe Gpp????”tanya pria itu...
                “Alvin????Kaki gue sakit ni...”Ucap Ify kepada lelaki itu..
                “Yaudah sini gue anterin deh...”Ucap lelaki itu..
                “G usah deh..Ntar gue telp Taxi aja..G enak nyusahin..”Ify menjawab..
                “Udah gpp gy..Kan rumah kita searah ini..”Ucap Alvin sambil menggendong Ify.
                “Coba aja..Cowo tadi si Alvin...Udah deh..Perfect banget dia..” Ucap Ify dalam hati..
                Alvinpun mengantar Ify sampai rumah...Di perjalanan Merekapun mengobrol layaknya seseorang yang sedang Jatuh Cinta...Sesampainya di rumah Ify..
                “Tq ya vin..Udah mau anterin gue,.,”Ucap ify kepada Alvin..
                “ok....Santai aja gy...Gue kan orang baik hati dan tidak sombong..hahahah” Ucap Alvin dengan Pdnya..
                “Yeeee...PD banget loe Vin..wkwkw..”Ucap Ify sambil tertawa..
                “Udah ye...Gue jalan dulu..Byee..”Ucap Alvin sambil mengendarai Motor Ninjanya..
                “Cieee....Ify...udah di anterin loh...Pulangnya sama pacar...:P”Ejek Sivia temannya yang ternyata sudah ada di rumah Ify..
                “iya ni...PJ dongg...Wooo..:P” Ejek lagi Shilla temannya Ify..
                “Ihh,..Apaan si loe orang ini...Orang tadi gue Cuma di anterin doang...-_-“Ucap Ify
                Merekapun kekamar Ify..Dan di kamar Ify menceritakan Kejadian yang beru dia alami di Aula Sekolah tadi..
                “Hah???Gila loe Fy...Masuk WC Cowo...Ngapain loe????” Ucap Shilla kaget..
                “Ya orang panik..ya mana gue tau kalau itu WC Cowo..Tp Guys bener deh..gue penasaran banget sama cowo tadi yang main Gitar...”Ucap Ify
                “Ya loe besok ke sono gy aja..Liatin,,Siapa yang dateng...”Ucap shilla memberi Saran..
                “Bener juga kata loe..Tumben loe pinter,...Piss”ucap Ify mengejek Shilla.
                “Maksud Loe????”Shilla menjawab..
                Akhirnya keesokan harinya ketika jam yang sama..Ifypun bersama teman2nya pergi ke Aula untuk melihat sebetulnya siapa sih lelaki itu...Siapa tau Alvin...Terlintas dalam benak si Ify...Dan sampai pada Aula terdengar suara Nyanyian merdu diiringi oleh Gitar...

                “Tak pernahkah kau sadari Akulah yang kau sakiti...Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari...Ohh Tuhan Tolonglah Aku...hapuskan rasa cintaku...Akupun ingin bahagia walau tak bersama dia....”Nyanyian lelaki itu..

                Ify dan teman2nya sangat terharu dengan nyanyian yang di nyanyikan lelaki itu...Apalagi Ify mendengar kemarin bahwa lelaki ini habis Putuh dengan kekasihnya...Tiba2 saja Shilla yang memang Polos tepuk tangan dan masuk ke Aula itu...

                “Prok-Prok-Prok....bagus banget lagunya...” Ucap Shilla sambil memuji lelaki itu...
Ify dan teman2nya mau tidak mau ikut masuk ke Aula itu..Akhirnya merekapun berkenalan

                “Eh sorry ya bukannya maksud buat ganggu loe...td gue and temen2 gue kebetulan lewat sini..And denger loe Nyanyi..Btw suara u bagus juga..Kenalin nama gue Ify...”Ucap Ify kepada lelaki itu..
                “Iya gpp kok...Nama gue Rio...”Ucap lelaki itu sambil menghapus tetesan Air matanya..
                “Kok loe nangis  si????Inget sama Mantan ya???” Ucap Ify Keceplosan..
                “Hah???tau dari mana loe????Orang gue nangis gara2 menghayati Lagunya...”Ucap Rio ngeles..
                “hah??Eeee...Gue...Gue Cuma nebak aja kok...” Ucap Ify Ngeles juga
                “Oooo...Gue kirain loe yang kemarin ngintip gue..ahhaa..:P”Ucap Rio
                “Enggak kok...Gue nggak ngintip....Orang gue Cuma kebetulan lewat doang..:Ucap Ify..
                “Woy...Kita di anggungriin ni...Yud lah,..Qta ber2 pergi dulu ya...Byee...”Ucap Sivia menarik Shilla..
                Akhirnya Ify dan Rio pun saling ngobrol...Dan merekapun menjadi Teman baik...Ketika sedang Asik Ngobrol tiba2 Alvin yang lewat Aula itu cemburu melihat Ify Dekat2 dengan Rio...
                “Wahh..Si Ify ngapain tu...Berduaan sama Rio..”Ucap Alvin..
                Alvinpun menghampiri mereka...
                “Woyy..pacaran aja loe ber2...hahahaa..”Ejek Alvin..
                “Apaan si loe Vin gue sama Ify Cuma temenan..Orang juga beru ketemu tadi...”Ucap Rio..
                “Iya tau Vin...makanya jangan sok tau,...:P”Ucap Ify...
                “Ya Maaf..Abis kayaknya mesra banget...-_-“Ucap Alvin sambil Cemberut...
                “Cemburu ya????”Ejek Rio...
                “Apaan si Yo....”Ucap Ify...
                “Udah ah...Gue pergi dulu...”Ify meninggalkan Alvin dan Rio...
                Hari berganti Hari...Dan pada waktu itu ada Acara Pentas Seni... yang diadakan sekolah merekaa...Riopun akan tampil pada acara nanti...Alvinpun tidak mau kalah,...Diapun nekat ikut tampil..Namun Ify dan teman2nya yang memang adalah Girlband ini...pertama tidak ingin ikut..Namun karena bujukan dari Guru dan teman2..Akhirnya merekapun ikut..


                Dan tibalah pada saat Pensi itu...Yang pertama akan tampil adalah Alvin..
                “Doain gue ya Fy...Agar tampilnya bagus...”Ucap Alvin kepada Ify
                “Iya gue Doain,...Udah sana...”Ucap Ify
                Alvinpun segera naik ke panggung...Dan Alvin bernyanyi lagu  Lagu Kita..
                “Ini lagu Kita...Tuk selamanya...Janjiku unutkkmu..Takkan tinggalkan dirimu...”Alvin bernyanyi..
                “Lagu ini gue persembahkan untuk seseorang yang spesial di hati gue...”Ucap Alvin ketika selesai bernyanyi...

                Sekarang untuk Penampil ke 2 adalah BLINK....Blink pun menyanyikan lagu andalannya..
Putih abu-abu..
                “Cinta-Cinta-Cinta datang padaku...Malu malu aku tuk akui itu...Tp Tp kamu tlah menawan hatiku Cintaku bersemi di putih abu2...”BLINK bernyanyi...
                Inilah puncaknya...Seseorang yang memang sudah di tunggu2...Dia adalah seorang yang memang di kagumi oleh para pelajar di Sekolahnya...RIO...
                “Sebelum gue nyanyi..Gue mau bilang..Kalau lagu ini adalah Curahan hati gue untuk seseorang yang udah nyakitin gue...”Ucap Rio...
                “Pernakah kau merasa...Jarak antara kita..Kini smakin terasa..Sejak kau kenal dia....Aku tiada percaya...Teganya kau putuskan...Indahnya cinta kitaa...Yang tak ingin ku akhiri..Kau pergiii..Tinggalkanku....Tak pernah kah kau sadari..Aku lah yang kau sakiti..Engkau pergi dengan janjimu yang telah kau ingkari..Ooo Tuhan tolonglah aku hapuskan rasa Cintaku..Aku pun ingin bahagia walau tak bersama dia...”
                Penontonpun dibuat Histeris dengan nyanyian Rio....Ifypun yang mendengar Rio bernyanyi sempat meneteskan air matanya..Setelah selesai bernyanyi tiba2....
                “Brukkk...Suara Rio yang sedang bernyanyi jatuh pingsan...”Teman2nya pun segera menolongnya dan membawanya ke UKS..Ify yang sangat Panik segera pergi ke UKS untuk melihat keadaan Rio...Begitupun dengan Teman2nya yg lain..Dan Alvinpun yang sebagai Sahabat Rio juga khawatir...
                Namun Riopun harus di bawa ke Rs.Karena belum sadarkan diri juga...Sesampainya di Rs. Riopun segera di tangani oleh tim Medis...
                “Vin...Loe tau g si Rio knp??Kok tiba2 pingsan gituu..” Tanya Ify kepada Alvin..
                “Gue juga gtau Fy...”Jawab Alvin
                “Gmn loe gtau???Loe kan Sahabat yg paling deket sama Rio...”Ucap Ify Cemas..
                “Ya selama ini emang dia sering ngeluh pusing kalau pas gy ngumpul2..Tp abis dia minum obat ya udah biasa lagi...”Ucap Alvin
                “Loe Knp si Fy??Kok kayaknya khawatir banget????Suka loe ya sama Rio???”Tanya Alvin                               “Bukan Gitu....Kan gue sahabatnya ya pasti khawatir lah....”Jawab Ify..

                Dokterpun keluar dari kamar Rio...
                “Gmn dok???Rio Gpp kan??”Tanya Ify..
                “Kamu siapanya???Keluarganya???”Tanya Dokter..
                “Bukan dok kami temannya..”Ucap Alvin..
                “Tolong hub orang tuanya...Saya ingin bicara...Rio sudah tidak apa..Dia hanya kecapean..”Ucap Dokter..
                “Orang tuanya sedang menuju kesini dok...Kami boleh masuk Dok????”Tanya Ify
                “Ya Silahkan..”Ucap Dokter..
                Ketika di dalam Kamar Rs Rio sudah sadarkan diri...Namun dia masih Lemas...
                “Yoo...Loe Gpp kan????”Tanya Alvin..
                “Nggak..Gue gpp kok..Cuma kecapean aja soalnya kemarin itu gue g tidur buat siapin Pensi..”Ucap Rio..
                “Ya Loe yoo..Bikin kita orang panik aja...Lagian walau gmn juga tetep harus istirahat lah.,.”Ucap Ify
                “Iya tu Yoo....si Ify khawatir banget tuu..hahhaa...”Ejek Alvin namun dalam hatinya dia kesal..
                “Husss...Jangan bercanda ahh Vin..udah tau gy begini..”Ucap Ify Jutek..
                Rio hanya tersenyum melihat ke 2 sahabatnya ini...Akhirnya setelah mendapat perawatan Medis...Rio sudah kembali seprti biasa lagi...Dan waktu itu Rio,Ify dan Alvin sedang jalan2 di Mall..
                “Eh makan yukk..Laper gue ni..”Ucap Alvin...
                “Ya ilah dasar..baru juga g lama qta makan..”Ucap Ify
                “ya namanya juga laper...-.-“Ucap Alvin
                “Yud2 g usah berantem...Qta makan di sono aja tu..”Ucap Rio sambil menunjuk salah satu restoran di Mall itu...
                Akhirnya merekapun pergi ke Restoran tempat biasa Rio makan bersama Ortunya...Dan merekapun makan...Dan ketika mereka sudah selesai makan..Tiba2 saja Alvin Sakit perut...
                “Eh2 guys gue ke Toliet dulu yaa...”Ucap Alvin..
                “Yud sana..Jangan lam2 ya..”Ucap Rio..
                Tinggalah Rio dan Ify 1 meja...Mereka yang biasanya bawel..Sekarang Salting...Rio tidak bisa menatap Ify...Dan Ifypun juga...
                “Eh Fy...Menurut loe gue gmn fy????”Tanya Rio..
                “Gmn apanya???”Tanya Ify
                “Ya menurut loe gue itu Orangnya gmn????”Ucap Rio
                “ooo..Emg knp???”Tanya Ify lagi..
                “Ya gue Cuma pengen tau aja...hahaha..”Ucap Rio sambil Minum minumannya..
                “hmmm..Menurut gue Loe itu orangnya Bae,Perhatian,tp nyebelin..hahaha..”Ucap Ify
                “Yee nyebelin gmn????”Tanya Rio
                “Ya nyebelin suka iseng..Kan loe terkenal dengan julukan Mr.Jail...-,-“Ucap Ify
                “hahaa..kan just Fun....hahaha...:P”Ucap Rio..
                “Tp Fy gue boleh ngomong Jujur nggak???”Tanya Rio
                “Apaan????”Tanya Ify dengan Bingung
                “Hmmm..Gue...Gue bingung ni....Selama ini pas gue kenal sama loe...Kok gue berasa ada yang ngobatin rasa sakit hati gue ke Mantan gue...”Ucap Rio
                “Maksudnya???”Tanya Ify
                “Iya sejak kenal sama loe..Gue jadi bisa lupain mantan gue...Anda bisa Happy lagi...And gue ngerasa nyaman kalau deket sama loe...”Ucap Rio..
                Ify hanya terdiam dengan muka merahnya...Namun tanpa mereka sadari..Alvin sudah dari tadi mendengarkan percakapan mereka...Alvin yang kesal mendengar itu...Ingin sekali menonjok Rio...Namun karena mereka sahabat..Alvin pun dgn besar hati menerima..Malah Alvin yang menyuruh mereka Pacaran..
                “Widihhh....Rio nyatain Cinta ke IFY...hahaha..”Ucap Alvin
                “Uhukk....Suara Rio batuk karena kaget ternyata Alvin mendengarnya...”
                “Apaan si loe Vin...”Ucap Ify
                “Yee..Kan emang bener si Rio gy nyatain Cinta ke loe fy..:P”Ejek Alvin
                “Udah ahh...Yuk..katanya mau Nonton...”Ucap Rio...
                Merekapun akhirnya menuju Bioskop...dan Mereka menonton Film Horor...Padahal Ify sangat takut dengan Setan...Namun karena ke2 temannya ingin menontonnya ya Ify mengalah...Didalam Studio Ify duduk di tengah2 Alvin dan Rio...Ketika di pertengahan Film..Ifypun yang sudah ketakutan tanpa sengaja Memegang Tangan Rio...
                Rio yang sadar bahwa ada tangan yang memegangnya dgn erat ingin melepaskan..Namun karena dia tau bahawa IFY lah yang memegang tangannya..Riopun tidak melakukan apa2...Alvin yang tingak sengaja melihat kejadian itu..Langsung Emosi...Diapun lantas menegur Rio di dalam Bioskop..
                “Woy yoo..mau pacaran di luar...g usah di dalem Bioskop...”Ucap Alvin secara Jutek..
                “Ehh...Ucap Rio dan Ify segera melepaskan tangan mereka...”
                Sejak kejadian itu Ify pun selalu membayankan Rio...Begitupun dengan Rio..Selalu membayangkan Ify..Alvin yang sebetulnya sudah menyukai IFY sejak Ify belum mengenal Rio...Sangat sakit hatinya...Akhirnya Alvin pun memutuskan akan berbicara dengan Rio..
                “Yoo..U ada dmn sekarang???Gue mau ngomong ni pentiing..”Ucap Alvin di telp
                “Gue gy di Rumah...Yud..Qta ke Taman deket sekolah aja..”Ucap Rio...
                Alvin akhirnya mengendarai Motor Ninjanya ke taman dan Riopun mengendarai Mobilnya...Sesampainya di taman...
                “Knp Vin???kayaknya penting banget...”Tanya Rio..
                “Gini yo...Tp jangan marah ya...”Ucap Alvin
                “Iya..Knp???”Jawab Rio
                “gue mau tanya tentang perasaan Loe ke Ify gmn sebenernya???”Tanya Alvin
                “Knp emg???”Ucap Rio
                “Ya gue pengen tau..Coz gue kasian liat Ify di gantung gini terus sama loe...Dulu pas di resto loe udah nyatain..Tp belum loe Tembak2 juga...”Ucap Alvin
                “ya sebenernya gue si suka sama Ify...Tp gue tau kok Loe Suka juga sama IFY..makanya gue g tembak2 si IFY..karena gue tau..loe juga suka sama IFY”Ucap Rio
                “Ahh kata siapa loe???Gue g suka ko....udah loe tembak aja..”Ucap Alvin
                “Udah g usah boong...Gue tau kok...gue udah tau selama ini...Coz dari cara loe pandang Ify,merhatiin Ify...”ucap Rio
                “ya ok..gue jujur..Gue juga suka sama IFY..Tp kalau emang Ify sukanya sama loe gpp kok..gue rela..”Ucap Alvin
                “Nggak kok..Ify juga sukanya sama loe...Lagian gue g pantes utk IFY...Gue g bisa jagain dia selamanya...Cuma loe Cowo yang pantes...”Ucap Rio
                “Maksud loe apaa??g bisa jagain dia selamanya???”Tanya Alvin Bingung..
                “Nggak kok...ya maksud gue...Gue itu g bisa jagain dia sebaik loe jagain dia..Loe Yang lebih pantes...”Ucpa Rio..
                “Tp gmn ya yo???Gue bingung..”Ucap Alvin
                “Udahhh loe tembak aja..Ni gue BBM si Ify suruh dateng ke sini ya???”Tanya Rio
                “ahh..Masa sekarang???Jangan ahh..”jawab Alvin
                “udah gpp...”Ucap Rio sambil BBM IFY
                “Fy u di tunggu Alvin katanya di Taman deket Sekolah..Sekarang..”Pesan BBM rio ke IFY
                “Udah ya vin..Gue pergi dulu...”Ucap Rio
Sebetulnya Alvin juga tidak enak ke Rio...namun di sisi lain Alvin juga tidak bisa menolak...Dan Rio sebetulnya tidak pergi..Dia hanya ngumpet..Dia memperhatikan Alvin yang akan menembak IFY..Akhirnya Ifypun datang...
“Knp vin???Ini si Rio BBM gue katanya loe mau ketemu sama gue???”Tanya Ify
“Iya ni...Gue mau ngomong sesuatu sama loe fy..”Ucap Alvin serius.. 
“Ya apaan???”Tanya Ify
“Sebetulnya gue itu udah suka sama loe dari dulu...And gue baru berani ngungkapin ini semua ke loe...Gue emang nggak sempurna..Tp gue bisa ngasih sesuatu yang nggak bisa di kasih oleh orang lain..Yaitu Cinta yang Tulus...Loe mau jadi cewe gue Fy???”Tanya Alvin
“Hah???Serius loe???Aduhh...Gmn ya????Gue kan udah anggep loe sahabat gue...And gue gmau karena ini persahabatan qta ancur...”Ucap IFY
                “Ya gpp kok FY...Yang penting gue udah ungkapin perasaan gue ke Loe...And gue tau loe itu pasti lebih milih Rio kan???”Ucap Alvin
                “Hah???Rio????Tuh kan nggal kok..Jangan karena masalah ini qta jadi ribut...Gue gmau loe sama Rio ribut...”Ucap Ify
                “Tenang aja gy FY..Gue sama Rio g bakal ribut kok...”Ucap Alvin..
                “Yud pulang yukk..Gue anterin...”Ucap Alvin
                Akhirnya merekapun pulang..Di motorpun mereka tidak berbicara...Dan hari berganti hari...Ketika mereka sedang ngumpul di Aula sekolah..Kejadian yang dulu terjadi lagi dengan Rio...,Rio tiba2 pingsan lagi,...Dan akhirnya Rio harus di bawa ke Rumah Sakit lagi...
                Ketika di Rs.Dokterpun memanggil Orangtua Rio...Dan IFY dan Alvin kembali masuk ke ruangan tempat Rio di rawat..
                “Yoo..Loe knp si????Jujue yoo sama qta...Gue khawatir..”Ucap Ify
                “Gue gpp kok...Gue Cuma kecapean lagi ajaa..:Ucap Rio ke ify
                “G mungkin kalau kecapean bisa kaya gini..”Ucap Alvin
                “Fy bisa gue minta waktu ber2 dulu sama Alvin..”Ucap Rio ke Ify
                Ify pun meninggalkan kamar tempat Rio di rawat...Dan rio berbcara kepada Alvin..
                “Vin...Gue minta tolong loe jagain Ify ya...”Ucap Rio
                “Apaan si maksud loe Yo????”Tanya Alvin
                “Iya pokoknya gue minta tolong loe bahagiain IFY and Jagain Ify...Soalnya umur gue udah nggak lama lagi...And gue gtau sampe kapan gue bisa bertahan...”Ucap Rio
                “Ahh..Jangan bercanda loe yo...G lucu tau..”Ucap Alvin
                “Beneran Vin....Tp gue minta loe rahasiain ini dari IFY ya...Gue gmau dia sedih...”Pinta Rio
                “Sejak kapan loe tau kalau loe sakit gini????”Tanya Alvin
                “Sejak pas pertama gue pingsan pas lagi Pensi...”Ucap Rio
                “Knp loe g ngomong ke gue dari dulu??Kan gue bisa nemenin loe terus...”Ucap Alvin sambil menangis...
                “Tq banget ya Vin..Dh mau jadi sahabat gue..And gue gmau loe orang pada sedih,...Selama gue masih bisa bakal gue jalanin...”Ucap Rio..
                Ifypun akhirnya masuk kembali kedalam Kamar Rio..
                “Fy udah loe pulang gihh...Gue gpp kok...”Ucap Rio kepada Ify
                “Nggak ahh..gue mau temenin loe disini..”Ucap Ify
                “Udah ayoo Fy pulang dulu...Toh besok qta kesini lagi kan...”Bujuk Alvin
                “Iya udah malem juga...nanti malah loe ikut2an sakit..Nanti gue harus berbagi tempat tidur lagi sama loe..hahah..”Ucap Rio diiringi senyuman dari Ify
                “Yud gue pulangh deh,...Tp besok pulang skull gue langsung kesini kok..Iya kan Vin???”Ucap Ify kepada Alvin
                “iya tenang aja..Gue anterin kok...”Ucap Alvin
                Ify dan Alvinpun pulang..Dan keesokkan harinya mereka pulang sekolah langsung ke Rs..
                “Hay yoo...Ni gue bawain makanan kesukaan loe...”Ucap Ify
                “Tq ya fy..”Ucap Rio
                “Yee sama gue nggak ni???:P”Ucap Alvin
                “iya2 tq ya Vin...”Ucap Rio...
                “Fy gue ada surat ni..Cuma boleh loe baca kalau Gue udah keluar dari Rs ini.Ok????”Ucap Rio.
                “Maksudnya pas Loe udah pulang dr Rs baru gue baca????”Tanya Ify
                “Iya IFY....”Ucap Rio..
                “ooo..Ok2...hahaa..”Ucap Ify sambil tertawa
                “Eh bentar ya..Gue keluar beli minuman...”Ucap Alvin
                “ok deh...”Ucap Rio
                “Fy loe janji ya sama gue...jangan ngelakuin hal2 bodoh..And dengerin kata 2 si Alvin ya..:P”Ucap Rio
                “Apaan si yoo..Aneh tau ga loe itu...”Ucap Ify
                Alvinpun kembali membawa minuman...And waktu telah malam...Ify dan Alvin pun pamit pulang...
                “Yoo..gue pamit ya...besok kesini gy..”Ucap Alvin..
                “Ok...Inget ya kata2 gue..:P”Ucap Rio sambil tersenyum
                “Iya kok..Pokoknya tenang aja..Serain semua sama gue..”Jawab Alvin.
                “Bye yoo..”Ify dan Alvin pun pulang...
                Namun di perjalanan tiba2 IFY mendapat Telp dari Keluarga Rio..Bahwa Rio tengah Kritis..Rio terus memanggil nama Ify terus..Ify sangat terkejut dengan berita itu...Langsung Ify dan Alvin menuju Rumah sakit kembali..
“Vin cepetan balik ke Rs..Rio lagi Kritis katanya,.,”Ucap Ify panik..
Alvinpun mengendarai Motornya dengan kecepatan penuh,....Sesampainya di Rumah Sakit..Rio sedang di tangani oleh tim Medis Rs..Dokterpun keluar lagi ruangan..
“Dokk...Gmn anak saya???Gmn Rio??”Tanya mamanya Rio
“Silahkan untuk segera ke dalam...Kita berdoa kepada Tuhan untuk Rio..”Ucap sang Dokter..
Di dalam kamar Rio..Rio sudah sempat sadar...Dan Rio berkata kepada keluarganya..
“Ma,Pa,Kak Acel...Semua maafin Rio ya...Rio udah sering bikin Keluarga Khawatir..And Rio g bisa ngebahagiain papa,mama..”ucap Rio
“Udah nak..qm yang kuat,..Kita semua disini sayang sama Rio...”ucap mamanya Rio..
“Vin...Inget ya pesan gue ke loe....Jangan lupa..Tq udah mau jadi sahabat gue selama ini..Pokoknya tq ya..”Ucap Rio
“gue juga tq banget Yoo..Loe dah jadi sahabat terbaik gue..Walaupun Cuma sebentar yang penting gue bisa kenal sama loe.”Ucap Alvin sambil meneteskan Air mata
           “And loe Ify...Tq ya udah ngobatin rasa sakit gue pas gue dulu di tinggal mantan gue..Yang paling penting tq udah hadir di dalam hidup gue.Mungkin di kehidupan sekrang kita nggak bisa bersama..tp di kehidupan yang selanjutnya mungkin kita bisa bersama...Dan inget ya Alvin itu orangnya baik.Dan dia lah yang Pantas buat Loe,.Sorry ya..”ucap Rio
           “jadi maksud loe..Loe bakal tinggalin qta orang???Ninggalin papa,mama,kk loe gitu????”Ucap Ify sambil menangis
          “gue juga gmau Fy..Tp Tuhan juga udah punya rencana lain buat gue..Yang pasti bakal jauh lebih baik..”Ucap Rio sembari menenangkan Ify
           “Yo papa minta maaf ya kalau selama ini emg udah sering marahin Rio..Tp itu semua karena Papa syang sama Rio,..Kalau emang Rio mau pergi..Gpp..papa udah seneng bisa dititipin Seorang anak yang luar biasa...”Ucap papanya Rio juga sambil Menangis..
            “Rio yang minta maaf pa..Karena Rio udah sering nyusahin papa..Qta bakal ketemu kok di kehidupan mendatang..Tq udah jadi papa yang sangat berharga buat Rio...
Seisi Ruangan menjadi sangat sedih...Terdengar suar tangis dari keluarga dan teman2 Rio...Dan Riopun menghembuskan nafas terkahirnya di dunia ini dengan tersenyum dan meneteskan Air mata...
             “Riooooo....”Teriak mamanya Rio yang sedih karena Buah hati yang dicinta telah Tiada..
Akhirnya Riopun di makamkan...Ify pun mengingat pesan Rio..bahwa Rio menitipkan surat kepada Ify..Dan itu hanya boleh di baca kalau Rio sudah keluar dari Rumah Sakit.
                Ifypun membaca surat itu dan isinya adalah

Ify kalau loe baca Surat ini..Berarti gue udah Nggak ada...
Loe nggak boleh sedih...Hapus Air mata loe.
Ingat pesan gue...Alvinlah orang yang tepat buat loe...
Selama ini gue suka sama loe Fy..Tp gue tau...
Gue bukanlah orang tepat buat loe..karena gue g bisa jagain loe terus..

Dan gue akan selalu mencintaimu.
gue akan selalu mencintaimu.
sayangku hanyalah loe. Hmm.

Pahit manis kenangan
itu semua akan gue inget selalu
Jadi, selamat tinggal. Tolong, jangan menangis.
Qta berdua tahu gue bukan apa siapa2,gue bukanlah  yang Loe  butuhkan.

Dan Gue akan selalu mencintaimu.
Gue akan selalu mencintaimu.
Dan Gue berharap Loe memiliki semua yang Loe impikan.
Dan gue berharap loe akan selalu dalam sukacita dan kebahagiaan.


Dan Gue akan selalu mencintaimu.
Gueakan selalu mencintaimu.
Gue  akan selalu mencintaimu.
Gue akan selalu mencintaimu.
Gue akan selalu mencintaimu.
Gue , Gue akan selalu mencintaimu.

Bye Fy..

Senin, 13 Mei 2013

Jangan Pergi (Cerpen Icil)

Jangan pergi! Aku hanya ingin memandangmu

Hening.
Dalam kesunyian yang memeluk erat ruangan putih itu, ada luka yang menusuk relung kalbu. Dalam sepi yang merengkuh malam itu, ada sesak yang membelit rongga dada.
Dan mereka tetap diam. Membiarkan kebisuan itu tetap tinggal. Membiarkan sakit dan sesak itu merambati kamar hati mereka. Membiarkan virus-virus kepiluan menghancurkan sel-sel jiwa mereka.
Diam. Lama sekali.
“Maafkan aku!”
Akhirnya ada suara yang memecahkan kerak-kerak keheningan itu. Gadis berwajah cantik itu mencium lembut kening pemuda di hadapannya.
“Jangan pergi, Ag!” pinta pemuda itu—Cakka—dengan lirih. Ia menatap sendu gadis yang tak lain, Agni. Pancaran matanya menyorot harap yang ektra besar.
Agni mendesah berat. Membalas tatapan Cakka. Sungguh ia berat meninggalkan kekasihnya itu. Terlebih mengingat keadaan Cakka semakin memburuk saja, membuat kakinya terasa ditindih ribuan beban yang berat. Ia tak sanggup melangkah. Tapi ia harus tetap pergi.
Sudah lebih dari puluhan kali Agni memohon kepada Ayahnya  untuk tetap tinggal di Semarang dan usah pindah ke Bandung. Namun, tuntutan tugas panjang sang Ayah, membuat Agni berada dalam posisi yang tak terelakan lagi. Terpaksa ia harus meninggalkan Cakka.
“Aku sayang kamu, Kka. Aku janji akan sering-sering ke sini untuk memastikan kau baik-baik saja.” Agni menjatuhkan dirinya ke dalam pelukan Cakka. Menangis pilu.
Cakka diam saja. dadanya sakit. Tak terbayangkan olehnya jika esok dan seterusnya penyemangat hidupnya harus beranjak dari sisinya. Tak terbayangkan bagaimana ia melewati hari-hatinya dengan sakit, karena penyakit yang dideritanya, tanpa Agni.
“Kamu benar-benar akan pergi, Ag?” Tanya Cakka untuk kesekian kalinya.
Agni melepaskan pelukannya dan mengangguk pasti. “Kamu jaga diri baik-baik, ya? Tetap semangat! Percaya kalau aku selalu ada di sini!” Ia menunjuk dada Cakka. Cakka diam saja.
Dan keheningan kembali bertugas. Menebarkan bau kehilangan yang nyaris mengikis habis rasa bahagia yang selama ini tercipta. Tak ada yang rela ditinggal, dan tak ada yang tega meninggalkan. Semuanya menumbuhkan benih-benih luka dalam hati. Bercabang dan mengakar kuat hingga esok dan seterusnya. Membekaskan baretan-baretan yang akan terasa ngilu dan perih.
*
Agni menatap keadaan di luar kereta dengan pilu. Air matanya menggenang penuh di pelupuk matanya. Ingin rasanya ia kembali menemui Cakka  yang dikabarkan kritis. Ingin rasanya ia memohon kepada sang Ayah agar mengulur waktu keberangkatan mereka. Ingin rasanya, ingin rasanya, ingin rasanya dan ingin rasanya ia melakukan apapun untuk melihat wajah Cakka dan mendengar suaranya kembali. Tapi kalimat itu nyaris tidak bisa dilakukannya. Ia tak punya kuasa. Keputusan Ayahnya sudah tersegel rapat. Tak bisa diganggu gugat.
“Cakka cape!” keluh Cakka. Menahan sakit yang terus berkiprah, menciptakan sayatan luka dalam jantungnya. Sekelebatan wajah gadis itu, gadis yang selama satu tahun ini menjadi tabib terhebat, menjadi obat mujarab, pun menjadi ramuan paling ampuh dalam hidupnya, menjamah pandangan matanya yang kian menutup rapat.
Lambaian tangan diiringi senyuman khas itu tertuju padanya. Sejurus kemudian ia melihat tubuh itu berbalik meninggalkannya. Jauh, jauh dan jauh. Tiba-tiba saja dadanya sesak tiada tanding. Berusaha mengejar pun tak mampu. Tubuh itu menghilang ditelan satu titik cahaya keemasan yang menyilaukan. Ia menangis. Menangis dalam penyesalan yang bersedekap dalam jiwanya; andai ada waktu untuknya kembali, satu jam saja!
“Agni!”
Suara bass itu memaksa matanya terbuka. Ia mengerjap beberapa kali, menatap keadaan di sekitarnya. Sama seperti sebelumnya. Kereta masih melaju dan belum berhenti.
“Mimpi, kah?” Agni melirik Ayahnya yang masih memandangnya cemas. Laki-laki tua itu mengelus lembut kepala Agni.
“Handphone-nya bunyi, sayang!” Kata Ayah memberitahu.
Agni yang baru menyadari ada getaran dalam saku bajunya, segera mengambil benda mungil berwarna hitam polos itu, setelah sebelumnya menatap wajah teduh Ayahnya terlebih dahulu. Dengan satu gerakan, ia mengangkat panggilan itu.
“Hallo!”
Agni diam. Membiarkan orang di balik telepon berbicara panjang lebar. Dan tanpa disadari, ada air mata yang secara tiba-tiba menetes di pipinya. Semakin lama semakin banyak. Ponsel yang sedari tadi digenggamnya terlepas seiring tangannya yang melemas. Tubuhnya serasa dihantam palu baja paling besar. Hatinya tertusuk ribuan anak panah paling tajam. Ia menjatuhkan diri dalam dekapan sang Ayah.
Menangis....
“Harusnya aku yang memintamu, jangan pergi!”
*

BIARKAN MENJADI KISAH KELU (Cerpen Icil)

Cakka menyipitkan matanya. Ia tidak mungkin menatap cahaya matahari dalam keadaan mata total terbuka. Silau itu memaksa garis matanya menipis. Belum lagi rasa pegal dan haus karena berjam-jam dijemur di bawah terik matahari, membuat kepalanya agak pening. Ia mengerjap beberapa kali. Matanya berkunang-kunang.

“Lo baik-baik aja, kan?” cewek cantik yang saat ini berdiri di sampingnya sedikit mengalihkan perhatiannya.

Wajar saja. Selama lebih dari dua jam dijemur, tak ada suara diantara mereka. Dan suara cewek tadi, nyaris memecahkan segala keheningan yang sempat terjadi. Menjadi daya tarik yang membuat penglihatan Cakka mulai terfokus padanya. cewek yang jelas belum pernah ia kenal sebelumnya.

“Gue gak apa-apa.” Jawab Cakka singkat. Tersenyum tipis.

“Lo kok bisa dihukum?” tanya cewek itu lagi.

“Gue absen hampir full satu bulan. Lo?” Cakka menjawab seadanya. Memang hampir satu bulan ini ia bolos sekolah tanpa memberi keterangan apa pun. Dan baru hari ini ia masuk, setelah kemarin disusul ke rumah oleh PKS kurikulum. Dan ia tidak menyangka kalau pada akhirnya PKS kesiswaan akan menghukumnya seperti ini.

“Haha, sama. Rekor banget deh, kita ngisi huruf a di kolom absen.” Cewek cantik itu tertawa renyah. Dan Cakka suka melihat tawa itu. Terlihat sangat manis. “Eh? Kenalan dulu, dong! Gue Shilla, anak IPS-2. Lo?” cewek yang rupanya bernama Shilla itu mengulurkan tangannya.

“Cakka, anak IPA-1” Cakka membalas uluran tangan Shilla. Menjabat hangat tangan lembut cewek itu.

Shilla menaikan salah satu alisnya. Bingung. “Anak IPA, ada juga ya, yang bandel kayak lo?” celetuk Shilla heran. Cakka hanya tertawa sumbang. Pening di kepalanya sedikit hilang.

Dan mereka tebarkan kecerian di sela lelah karena hampir seluruh cairan dalam tubuh mereka terhisap teriknya cahaya matahari. Entah kenapa rasanya tiba-tiba saja mereka merasa ada kenyamanan tersendiri berada di dekat orang yang ada di sampingnya saat ini.

“Cakka!”

Cakka yang tengah asyik berjalan menyusuri koridor sekolah, sesaat membalikan badannya ketika suara yang sudah ia kenal jelas, menyapa telinganya. “Eh, Shill?” dengan sangat rinci ia mengamati Shilla yang sudah berdiri di hadapannya.

Setelah insiden dihukumnya rekor alpa SMAN-1 beberapa bulan yang lalu, Shilla dan Cakka memang mulai berteman dekat. Mereka mulai banyak menghabiskan waktu bersama-sama. Hingga perlahan ada rasa yang aneh yang menjalar dalam hati mereka. Menuntun satu kata bertajuk pacaran tersisip diantara mereka. Ya, sudah satu bulan ini mereka berpacaran.

“Ada apa?” tanya Cakka melanjutkan langkahnya. Shilla mengikuti.

“Lo kemaren bolos lagi? Bukannya setelah hukuman tempo hari, kehadiran lo membaik, ya? Kenapa harus bolos?”

“Kemaren gue sakit.” Singkat Cakka.

Shilla memperhatikan Cakka lekat-lekat. Memang terlihat agak pucat. “Sekarang masih sakit, ya? Kok wajah lo pucat gitu?” tanyanya memastikan. Memegang wajah Cakka yang terasa panas.

Cakka tersenyum. “Dikit, doang. Lagian setelah jadian sama lo, gue gak betah ada di rumah. Bawaannya kangen mulu sama lo.” Ia terkekeh pelan sembari mengacak-ngacak poni Shilla gemas. Shilla tersipu. Sikap Cakka yang terkesan simple dan agak cuek, membuat Shilla jarang mendapat perlakuan seperti itu dari Cakka. Tapi Shilla tetap betah lama-lama ada di dekat Cakka. Cakka mempunyai sesuatu yang istimewa di mata Shilla. Entah apa itu. Ketulusan sepertinya



“Sepulang sekolah, kita jalan-jalan, ya?” ajak Cakka yang langsung diberi anggukan semangat oleh Shilla. Jarang-jarang Cakka ngajak jalan.

Senyuman manis tergores sempurna di birir keduanya. Baru saja mereka selesai menaiki semua wahana di dunia fantasi yang mereka kunjungi saat ini. Tak ada yang paling membahagiankan bagi Cakka, selain hari ini. Sebelumnya ia tidak pernah merasa sebahagia ini.

“Lo seneng gak, Shil?” tanya Cakka sambil duduk di bangku yang paling dekat dari posisinya. Kakinya terasa lemas dan butuh untuk istirahat. Tubuhnya yang masih kurang fit akibat sakit kemarin, terasa begitu lelah.

Shilla ikut duduk di sampingnya. Ia terlihat masih sibuk menikmati ice cream-nya. “Sumpah gue seneng banget, Kka!” Shilla menjawab pertanyaan Cakka sembari menyandarkan kepalanya di bahu Cakka. Ada ketenangan yang tiba-tiba menjamah hatinya. “Lo seneng juga, kan, Kka?” tanya Shilla balik.

Cakka tersenyum. “Gue seneng karena untuk pertama kalinya gue bisa buat cewek bahagia.” Jawab Cakka sembari mengambil alih ice cream Shilla. “Lo makan sendiri aja. Bagi-bagi, dong!” komentar Cakka sambil menjilat ice cream itu. Ia memandang Shilla yang sudah menjauhkan kepalanya dari bahu Cakka.

Shilla menyeringai. Mengerucutkan bibirnya.

“Ish, lo lucu juga, ya? Sini gue foto!” Cakka mengeluarkan BB-nya dan segera mengambil gambar Shilla yang masih memasang tampang cemberutnya. Ia tertawa ceria.

Dengan satu gerakan, shilla merebut BB Cakka. “ice cream gue, diganti sama BB lo, ya? Haha...” Ia melet-melet ke arah Cakka yang sudah berhenti tertawa.

Bukan karena BB-nya diambil Shilla Cakka berhenti tertawa. Tapi karena tiba-tiba saja, ada sakit yang menyeruak menguasai kepalanya. Pandangannya sedikit kabur, dan telinganya berdenging. Ia mengerjap beberapa kali. Kepalanya berdenyut semakin hebat. Wajahnya yang memang sebelumnya sudah pucat, lebih memucat lagi. Dan Shilla belum menyadari perubahan di wajah Cakka karena tampak masih asyik dengan BB itu.



“Shilla!”



Kepalanya yang terasa berat, terpaksa ia angkat saat telinganya yang masih bisa merespon, mendengar suara bass seseorang memanggil nama kekasihnya. Shilla mengalihkan perhatiannya juga. Seorang pemuda hitam manis tengah berdiri di hadapan mereka.



“I-Iyel?” gugup Shilla memanggil nama pemuda itu. Ia berdiri dari duduknya.



Iyel menatap Shilla curiga. “Lo ngapain di sini? Sama cowok, lagi. siapa dia?” tak kuasa Shilla menjawab. Ia bungkam. Tak ada kata yang bisa menjelaskan semuanya. Rahasianya yang tengah ia tutupi akan terbongkar saat ini juga.



Meski agak limbung, Cakka berdiri dari duduknya. Mensejajarkan tatapannya dengan tatapan Iyel yang menyorotkan sinar-sinar tajam ke arahnya. Ia menatap Shilla sekilas, yang masih terlihat kebingungan sambil menggigit bibir. Dari ekspesi Shilla, Cakka sudah dapat menduga apa yang sebenarnya sedang terjadi.



“Dia bukan siapa-siapa lo, kan?” tanya Iyel sekali lagi. kali ini sembari memegang pundak Shilla cukup kuat. Shilla tetap bergeming.



Cakka menguatkan pegangannya pada bangku, guna menahan tubuhnya untuk tidak jatuh. “Lo, pacarnya Shilla, ya?” Cakka basa-basi. Masih menahan sakit yang masih saja melancarkan serangan hingga membuat ia merasa kepalanya hancur berantakan. “Lo tenang, aja! Gue bukan siapa-siapanya Shilla, kok. Gue baru aja kenal sama dia. Dia habis minjem ponsel gue. Katanya mau hubungi lo.” Bohong Cakka. Dengan satu jurus, ia mengambil BB-nya dari tangan Shilla dan menunjukannya pada Iyel yang langsung menarik nafas lega. Fikiran negatif yang sempat tumbuh dalam benaknya gugur begitu saja.



Shilla memandang Cakka. Dan kecemasan menghujamnya saat melihat wajah Cakka. “Lo...”



“Mending sekarang lo anter Shilla pulang, deh!” Cakka memotong ucapan Shilla. Ia memandang Iyel yang juga tampak cemas melihat wajah pucat Cakka.



Tak ingin berurusan lebih lama dengan Cakka, Iyel segera menarik tangan Shilla. “Ya, udah, thanks ya, bro!” senyuman Iyel terlontar untuk Cakka sebelum ia benar-benar meninggalkan Cakka. Cakka membalas senyuman Iyel setulus mungkin.



Sepintas Shilla melirik Cakka penuh dengan penyesalan. Ia merasa begitu bersalah. Dan ia juga merasa berhutang budi karena Cakka menyelamatkannya. Jujur, sebenarnya ia sangat mencintai Iyel yang sudah tiga tahun ini menjabat sebagai pacarnya. Tapi ia juga mencintai Cakka. Ia mencintai dua pria.



Cakka mengangguk pelan saat Shilla memandangnya. Memberitanda kalau ia baik-baik saja dan tak perlu ada yang dicemaskan. Setelah itu ia kembali duduk. Sakit di kepalanya semakin hebat saja. Tapi ada yang lebih sakit lagi. Dadanya. Tepat di bagian hatinya yang terasa ditancap oleh pedang paling tajam hingga bagian yang paling dalam. Ia sesak tiada ujung. Tapi kenyataan pahit itu harus diterimanya. Bahwa sebaiknya ia melepas Shilla untuk orang yang memang lebih dulu mencintai gadis itu.



Lagi pula, ia memang merasa tidak pantas mencintai. Dan memang tidak boleh ada yang mencintainya. Terlebih saat ia menyadari, ada yang kembali meluncur dari lubang hidungnya. Sebuah cairan berwarna merah yang selama beberapa bulan ini sering muncul tiba-tiba. Memaksa ia untuk vakum bersekolah dan menghabiskan waktu di rumah, atau bahkan rumah sakit.



“Mimisan lagi, kan gue?” desahnya saat ia tak merasakan tubuhnya sendiri.



*



“Lo gak marah sama gue, Kka?” Suara di balik telepon.



“Ngga, kok.” Dengan susah payah, Cakka berbicara tanpa menggunakan masker oksigen yang sengaja dilepasnya.



“Jadi, hubungan kita gimana?”



“Ya, putus dong, Shil. Masa iya sih, lo bohongin Iyel terus. Biar kisah kita yang dulu jadi rahasia indah kita berdua aja. Mulai sekarang, anggap aja gue gak pernah ada dalam hidup lo. Anggap kejadian di bawah terik matahari itu tidak pernah ada. Iyel yang terbaik buat lo. Lo jangan bohongin dia lagi! Lo ngerti, kan, Shil?” terang Cakka panjang lebar. Dan berbicara sepanjang itu membuat dadanya sakit. Tanpa mendengar respon Shilla selanjutnya, Cakka segera memutuskan pembicaraan.



Tangannya terpaksa melepaskan ponsel yang tengah digenggamnya dan segera meremas dadanya dengan kuat. Ada sakit yang teramat sangat di bagian itu. Yang tak lama disusul dengan hantaman tiba-tiba di kepalanya. “Ya Tuhan...” hanya nama itu yang mampu dilafalkannya. Hanya nama itu yang bisa ia panggil. Tidak ada yang lain. Nama itu yang bisa membebaskannya dari belenggu rasa sakit. Entah dengan cara mengambil seluruh nyawanya, atau hanya sebagian saja. Terserah si pemilik nama itu saja. Yang pasti, ia hanya ingin, tak ada sakit yang ia rasakan lagi saat ini.



Dan remasan tangan itu perlahan mengendur saja saat desahan nafas yang semula cepat perlahan menghilang seiring lepasnya sesuatu yang kasat mata dalam tubuh itu. Pergi menjauhi jasadnya yang penuh dengan senyuman ketulusan itu.



Ia pergi jauh...


Meninggalkan seberkas rahasia indah yang tersimpan pahit dalam jiwanya...


Ia pergi jauh...


Dengan kebahagiaan dan rasa perih yang terendap dalam hatinya yang terluka parah...

Yang Aku Tahu (Cerpen)

Hanif menghempaskan tubuhnya. Ada senyuman paling manis yang terpatri di bibirnya pertanda ia bahagia. Hatinya di selimuti kabut-kabut paling dingin, tapi menenangkan. Langit-langit kamarnya seperti menggantungkan miliaran bintang paling terang yang membuat matanya buta dan tak melihat perasaan apa pun selain bahagia.

“Aku Rima ...,” gadis itu tersenyum, mengulurkan tangannya. Hanif membalas uluran tangan itu. Dan ia tak bisa bernafas. Tak mampu mengucapkan namanya. Ia lupa siapa dirinya, ia lupa sagala hal. Paras gadis bernama Rima yang mempunyai sentuhan paling lembut itu mengutuknya menjadi bisu. Ia tak berkutik.
Pertemuan pertama itu, membuatnya benar-benar seperti orang gila. Entah kalimat apa yang bisa menjelaskan pertanyaan kenapa bisa terjadi. Yang pasti hanya kata jatuh cinta yang bisa menggambarkan seberapa gilanya ia saat ini. Nama Rima seperti mantra ajaib yang lembut terdengar di telinganya. Ia melanglangbuana. Beginilah jatuh cinta.
Tak ada yang ia pedulikan saat itu selain biusan pesona gadis itu. Sosok tampan yang saat itu berada di samping, Rima pun tidak membuatnya lantas berusaha melupakan bayang tentang Rima. Meski pemuda tampan itu berstatus sebagai kakak kandungnya. Ia mencintai calon tunangan kakaknya sendiri. Dan minggu depan ia akan pergi bersama Rima. Makan malam, nonton bioskop, jalan-jalan di pasar malam dan melakukan banyak hal berdua. Ia memang sudah gila! Yang ia tahu, Rima pun tertarik padanya. Gadis itu berpaling hati padanya.
*
Malam melukiskan diri lebih indah dari biasanya. Taburan bintang bukan lagi bintang biasa. Mereka menjadi venus paling terang yang menyinari bumi paling kelam. Segala sesuatu di sekitar menjadi lebih berwarna dan indah. Dan semua itu hanya tampak di pelupuk matanya.
“Harusnya tadi si tokoh ceweknya yang mati!” kata Rima sibuk menghabiskan popcorn sisa nonton beberapa jam yang lalu. “Tapi baguslah, aku lebih suka kalau tokoh cowoknya yang mati. Lebih dramatis gitu!”
Hanif hanya tersenyum mendengar komentar Rima tentang film yang baru saja ditontonya. Mereka berjalan menjauhi gedung bioskop. Beriringan melangkah menuju taman kota. Duduk berdua di sana, di samping jalan raya yang masih terlihat ramai. Menikmati apa saja yang ada. Yang mereka tahu apa pun itu, semuanya sudah menjelma menjadi pernak-pernik paling indah yang menghiasi malam itu.
“Yang aku tahu, inilah cinta. Tenang meski berpijak di puncak kekahawatiran. Damai meski terperangkap di medan perang. Indah meski terperosok di lembah paling mejijikan. Dan aku baru merasakan hal seperti ini seumur hidupku,” Rima memeluk lengan Hanif erat. Perasaan Hanif melayang tak tentu arah. Untuk kedua kalinya ia merasakan sentuhan paling lembut, lebih lembut dari kain seutera. Gadis cantik yang dijodohkan dengan kakaknya itu menatap Hanif lekat-lekat. Dan Hanif menahan nafas untuk membiarkan matanya bertemu dengan mata Rima.
Rima gadis cantik yang lugu, penurut dan pendiam. Ia tidak pernah menolak apa pun yang orangtuanya perintahkan. Termasuk dijodohkan dengan Rian—kakak kandung Hanif—meski ia tidak pernah mencintai pemuda itu. Dan kali ini, untuk pertama kalinya, saat ia dikenalkan dengan Hanif, ia merasa ada getaran aneh dalam dadanya. Membuatnya ingin memberontak. Menumbuhkan ribuan do’a dan asa dalam hatinya, agar Hanif lah yang dijodohkan dengannya.
“Yang aku tahu, inilah cinta. Menjadikanku orang paling nekat. Berani menerima resiko apa pun setelah ini,” setelah sepersekian detik terdiam, Hanif akhirnya bersuara.
Rima membiarkan kepalanya bersandar di bahu Hanif. “Ternyata cinta ajaib, ya?” ujar Rima pelan. “Aku hanya berharap, ia benar-benar memberikan keajaibanya untuk aku, untuk kamu.”
Hanif tersenyum. Rasanya ia tidak ingin malam ini berakhir. Ia ingin menikmati waktu yang singkat ini untuk duduk berdua bersama Rima sebelum esok ada sebuah benda paling berkilau di jari manis gadis itu. Namun, ia memang tidak berhak mendapatkan waktu itu lebih panjang lagi. Ia harus mengakhiri keindahan yang baru saja terjamah lahir batinya, saat tubuhnya ditarik paksa menjauh dari Rima. Rima terlonjak kaget saat ia juga merasa sesorang mencekal tangannya dengan begitu kuat.
“F@##ing, lo, Nif!”
“Ini sungguh memalukan!”
“Hanif!”
Hanif menunduk dalam-dalam. Tak berani menatap wajah orang-orang di sekitarnya. Yang ia tahu, memang caranya salah. Tapi ia tahu rasa dalam hatinya tidak pernah salah. Ia mencintai Rima, begitu pun sebaliknya.
“Rian!”
Hanif tahu, itu jeritan Ibu. Ibu menjerit panik saat dengan sempurna Rian memukul wajahnya. Ia diam saja. Tak ada niat untuk melawan. Ayah mencoba menghentikan aksi Rian. Dan Rima dalam rangkulan orangtuanya menangis tak bisa melakukan banyak hal.
“Rima tidak mencintai Rian, Yah. Rima mencintaiku! Harusnya kalian menjodohkan dia denganku!” Hanif berujar serak saat Ayah berhasil menghentikan Rian. Semua mata kini tertuju pada Rima. Meminta penjelasan dari primadona paling cantik itu. Dalam tangisnya Rima mengangguk pelan. Pelan sekali!
“Aaarrgghh! HANIF!”
Hanif tidak ingat apa-apa lagi saat itu. Ia hanya merasa sebelumnya ada sesuatu yang membentur tubuhnya, saat Rian mendorongnya kuat-kuat hingga tubuhnya tersungkur ke jalan raya dan terlempar jauh. Kesadarannya sudah tidak ada. Tapi ia masih merasakan sakit itu. Ia masih bisa merasakan nyeri di bagian kepalanya yang sudah pecah karena terbentur trotoar jalan raya. Ia juga masih bisa merasakan betapa perihnya kulit tubuhnya yang terkelupas karena bergesekan dengan aspal. Dan ia juga merasakan seberapa sakitnya denyutan pemompa darahnya yang mulai lupa bagaimana caranya bekerja. Tapi ia tidak pernah lupa senyuman paling indah dan sentuhan paling lembut yang pernah ia rasakan di hari pertama ia merasakan apa itu cinta.
“Aku Rima ...,”
Senyuman itu tidak akan pernah terlupa. Pun dengan nama itu. Hingga saatnya ia harus menemukan kegelapan yang nyata pun, ia tidak akan pernah melupakannya.
“Hanif! Bangun, Hanif! Bertahanlah!”
Entah suara siapa, tapi Hanif sudah menjadi bisu, tuli, dan buta saat ini. Ia tidak bisa merespon apa pun. Hanya ada keheningan dalam dirinya.
“Yang aku tahu, aku tidak pernah tahu kalau cinta semenyakitkan ini!”
TAMAT

Minggu, 21 Oktober 2012

Cinta Itu Rima (Cerpen)



for you... Maaf kalau tidak memuaskan... 

*

Air mata menggenang di pelupuk matanya yang mulai terasa panas. Seperti baru saja menghirup berbagai gas racun,  dadanya sesak luar biasa. Pemandangan di depannya bukan sekedar adegan drama. Ini nyata dan ia menontonnya secara langsung. Gosip yang selama beberapa minggu ini berdesis di telinganya, tidak bisa dipungkirinya lagi. Orang yang begitu dicintainya tega menghianatinya seperti ini.
Ia mundur beberapa langkah, menjauhi tempat itu. Tak kuasa lagi menahannya, cairan bening itu menetes membasahi pipinya. Ia berbalik dan berlari dengan sangat cepat saat orang yang sedari tadi dilihatinya menangkap sosok dirinya.
“Rima!” Laki-laki itu berlari mengejarnya setelah sebelumnya menatap gadis cantik yang sedari tadi dipeluknya. “Rima! Kau harus mendengar penjelasanku!”
Rima menghentikan langkahnya. Tanpa berbalik ia  tahu laki-laki itu sudah berdiri di belakangnya. “Kamu jahat, Nif! Jahat banget, tahu!” masih dalam posisi yang sama, Rima berujar lirih di sela isakannya.
Hanif—laki-laki itu—meraih tangan Rima yang langsung ditepisnya kasar. “Rima...”
Rima kembali berlari tanpa ingin tahu apa yang akan Hanif katakan. Perasaannya terlanjur kecewa dan sakit hati. Selama beberapa minggu ini ia cukup kuat mendengar isu-isu tidak mengenakan soal Hanif. Ia tidak mempedulikan apa kata teman-teman satu sekolahnya tentang Hanif. Ia tetap menyimpan kepercayaan yang kuat untuk kekasihnya itu, karena ia mencintai Hanif lebih dari apapun.
Tapi sebegitu teganya Hanif membuat luka yang dalam dalam hatinya. Memecahkan gumpalan cinta tulus yang selama tiga tahun ini dijaganya. Tanpa ia tahu apa khilafnya sehingga ia tega menggoreskan  luka itu.
Hanif berhenti mengejar Rima saat diyakininya gadis itu tidak akan terkejar lagi. ia membungkukan badan, menahan lelah. Entah apa yang harus dilakukannya saat ini. Entah bagaimana juga persaannya kali ini. Yang pasti, tak ada secuil pun niat berkhianat dalam hatinya untuk melukai gadis itu. Karena ia begitu mencintai Rima.
*
“Apa aku bilang? Aku melihat dengan jelas dia sering  jalan berdua gitu sama cewek cantik. Lagian kamu, sih gak percaya banget sama aku,” Rosa, sahabat baik Rima nyerocos gak jelas saat Rima nangis-nangis memberi laporan soal apa yang dilihatnya tadi malam.
“Terus aku harus ngapain, Ros?” lirih Rima menenggelamkan wajahnya di balik tangannya yang terlipat di atas meja.
Rosa mengelus lembut punggung Rima. Menguatkan. “Kita harus beri dia pelajaran, Rim!”  tukasnya. Matanya berkilat-kilat mencari ide. Gadis itu tidak suka melihat sahabat baiknya disakiti seperti ini. Otak cerdasnya akan dengan sangat mudah mencari ide-ide cemerlang untuk melancarkan balas dendam terhadap orang yang telah melukai Rima. Siapa pun.
Sontak Rima mengangkat kepalanya dan memandang Rosa serius. “Beri pelajaran? Kamu mau ngapain?” tanya Rima panik. Takut kalau teman tomboinya itu melakukan hal macam-macam terhadap Hanif, mengingat Rosa anak karate yang bisa dengan sangat mudah melumpuhkan Hanif.
“Gak ngapa-ngapain. Cuma mau nyuruh pembunuh bayaran nyulik dia buat aku siksa, aku bunuh, aku mutilasi, aku preteli organ tubuhnya, lalu aku kasih hatinya ke kamu, biar kamu tahu ada nama yang lain selain kamu di dalamnya.”
“Rosa! Jangan becanda!” pekik Rima, ngeri membayangkan rencana gila temannya yang satu itu. Ia menangis semakin hebat.
Rosa tertawa renyah. Menatap manik mata Rima yang semakin banyak mengeluarkan air mata. “Haha, kamu fikir aku psikopat, apa? Mana berani juga aku lakuin itu?” dengan lembut Rosa menghapus air mata Rima. Dari sanalah Rima merasakan ketulusan seorang sahabat. Baginya, Rosa seorang pembela yang begitu berharga. “Kita lakukan yang lebih halus. Sesuatu yang kuat akan lebih mudah rapuh jika dilawan dengan sesuatu yang halus.”
Sesaat Rima tertegun mendengar kata-kata Rosa. Tapi setelah itu ia tersenyum. Selama bukan hal yang berbahaya, ia tidak akan melarang Rosa membalas perbuatan Hanif terhadapnya. Luka yang Hanif berikan, telah membuat baretan ngilu dalam hatinya. Dan Hanif harus mendapatkan balasan yang setimpal.
*
Hanif berjalan lesu melewati lorong-lorong sekolah. Ada sesuatu yang tiba-tiba menusuk relung hatinya. Semacam panah beracun yang kemudian menyebar meracuni paru-parunya hingga ia kesulitan bernafas. Apa yang baru saja terjadi di kelas musik, benar-benar membuatnya seperti penderita kanker stadium akhir yang tidak punya harapan hidup. Dengan sebelah pihak, Rima memutuskannya tanpa memberi kesempatan untuknya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
“Kamu fikir, hanya kamu yang menduakanku dengan gadis lain? Asal kamu tahu, Hanif. Jauh sebelum kamu mengkhianatiku, aku lebih dulu melakukannya. Dengan temanmu sendiri! Mulai sekarang, kita putus!”
Tak pernah ia duga sebelumnya,  Rima dengan begitu tega melakukan hal itu. Bahkan Rima tidak pernah tahu kalau orang yang  dipeluknya itu bukan siapa-siapanya. Rima tidak pernah tahu dan tidak mau tahu dengan semua itu. Ia begitu mencintai Rima dan Rima menganggapnya telah mengkhianatinya. Padahal justru ia yang dikhianati hingga sesakit ini.
“Rima!” Hanif memanggil nama itu sembari mencekal tangan lembut Rima, saat Rima bejalan melewatinya, bersama Fahmi, temannya. “Denger penjelasanku, Rim!”
Dengan kasar Rima menepis tangan Hanif tanpa sedikit pun menatap wajah orang yang sebenarnya masih dicintainya itu. Ia harus membuat perhitungan dengan Hanif; Bahkan kamu tidak bisa mengucapkan maaf atas apa yang kamu lakukan sama aku, Nif! Batin Rima kesal. Ia hanya ingin Hanif mengucapkan kata maaf untuknya. Ia tidak butuh penjelasan. Ia hanya butuh pengakuan Hanif atas kesalahan itu.
“Ayo, Mi!” Rima menarik tangan Fahmi yang masih menatap Hanif iba. Sebenarnya ia tidak tega melihat Hanif seperti ini.  Jika bukan karena ancaman Rosa, ia tidak akan mau berpura-pura seperti ini.
“Shit!” umpat Hanif kesal. Ia mendudukan dirinya di beranda kelas. Rasanya kakinya tidak bisa lagi melangkah. Racun itu sudah hampir melumpuhkan persendian tubuhnya. Pengkhianatan itu ia dapat bukan dari kekasihnya saja, tapi juga sahabatnya sendiri.
*
“Pergi! Sampai kapanpun aku tidak akan mau mendengar penjelasanmu. Lagipula, mau kau jelaskan atau tidak, tidak berpengaruh untukku. Aku lebih mencintai Fahmi ketimbang kamu.”
Sebenarnya ada rasa sakit saat ia harus mengucapkan hal itu. Ia seperti menghantam keras batinnya sendiri. Sudah berkali-kali ia menolak kehadiran Hanif yang juga tak urung menyerah, padahal sudah jelas ia yang mengaku-ngaku telah menghianatinya. Bukankah, secara tidak langsung Hanif membuktikan cinta tulusnya kepada gadis itu? Lalu seegois itukah Rima terhadapnya, hingga ia bahkan selalu menolak berbicara dengan Hanif selama hampir satu minggu ini.
“Rim, aku mohon sekali saja! Aku mencintaimu, Rim! Percaya padaku!” Hanif memegang lengan Rima kuat-kuat saat Rima hendak masuk ke dalam rumah. Rima berbalik dan menatap Hanif tajam. Dan saat itu pula Hanif melihat dengan jelas pancaran ketulusan yang masih tersimpan aman dalam mata indah itu. Ia yakin bahwa Rima masih sangat mencintainya. “Bilang sama aku, kalau kamu tidak benar-benar mencintai Fahmi, Rim! Bilang sama aku kalau hanya aku yang kamu cintai!”
“Bulshit!” Rima berusaha melepaskan genggaman tangan Hanif dan segera masuk ke dalam rumah. Hanif diam mematung saat pintu ditutup dengan keras. Lebam dalam hatinya semakin sakit saja. Begitu pun dengan Rima. Ia terduduk, bersandar di balik pintu, menangis lirih. Sungguh ia ingin mengatakan apa yang Hanif katakan. Namun gengsinya terlalu kuat menggurita dalam dadanya.
Hanif melangkah menjauhi rumah Rima. Membawa kekecewaan.
“Hanif!”
Hanif membalikan badan saat suara seseorang tertangkap gendang telinganya, begitu ia melangkah agak jauh dari rumah Rima. Sesaat saja tatapan sayu yang sedari tadi terpasang, berubah menjadi kilatan-kilatan tajam. Ia berjalan mendekati si pemanggil dengan tergesa. Sejerus kemudian melayangkan pukulannya tepat di wajah orang itu—Fahmi.
“Nif, kamu kenapa, sih?” Fahmi berusaha menghindar, tapi rupanya amarah Hanif sedang memuncak. Ia dalam posisi tak terelakan. Tubuhnya terpaksa jadi sasaran kemarahan Hanif. Dan ia tidak ingin melakukan perlawanan sedikit pun. Ia merasa pantas untuk mendapatkan hal itu. Membohongi Hanif hingga menyakiti hati temannya itu, adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
“Apa salah aku, Mi? Kenapa kamu tega nusuk aku dari belakang? Kenapa, Mi?!” Hanif semakin hebat saja melakukan aksinya. Hingga akhirnya Fahmi sadar, kalau ia harus melawan untuk menghentikan Hanif. Dengan kuat ia mendorong tubuh Hanif agar menjauh darinya. Membiarkan tangan kekarnya memukul wajah Hanif sekuat tenaga. Setelah itu, posisi terbalik. Meski Fahmi tidak seanarkis Hanif, tetap Hanif paling payah setelahnya.
“Kamu harus dengerin aku, Nif!” Fahmi mencekal pundak Hanif dengan keras, membuat ringisan ngilu dari Hanif. “Aku gak pacaran sama Rima. Aku, gak pernah cinta sama Rima, begitu pun dengan dia. Ini hanya skenario buat bales semua penghianatan kamu sama Rima!” jelas Fahmi. Ia merasa dengan begitu, beban yang semula bertumpuk dalam hatinya ambruk begitu saja. Perasaannya seperti baru saja bebas dari sel tahanan paling kelam.
Hanif membatu. Tubuhnya merosot ke bawah. Ia tertawa gak jelas. “Bodoh!” desisnya tajam. “Aku sudah menduganya dari awal, kalau Rima gak bener-bener cinta sama kamu!” ujarnya masih dengan tawa sumbangnya.
“Nif, aku minta maaf! Kamu boleh pukul aku lagi kalau kamu belum puas.” Fahmi ikut duduk di samping Hanif. Menatap Hanif lekat-lekat, ada noda merah di sudut bibirnya. “Maaf juga aku udah buat kamu kayak gini!” dengan satu gerakan, Fahmi mengelap darah itu dengan ujung jarinya.
Hanif meringis pelan. Perih di bibirnya tidak seperih di hatinya, meski ia sudah mengetahui apa yang sebenarnya sedang terjadi, tetaplah luka dalam tidak akan mudah disembuhkan. “Aku mau aja pukul kamu lagi, Mi. Kamu bohongi aku seperti ini bukan hal yang lucu, tahu, gak? Kamu gak berbakat jadi aktor! Ngapain juga kamu akting kayak gini?”
“Tapi kamu tertipu juga, kan?”
Hanif tertawa. Begitu pun dengan Fahmi. Meski ada rasa sakit, tapi suasana itu menggambarkan kalau keadaan mulai membaik.
“Terus, cewek yang kamu peluk itu siapa?” Fahmi menghentikan tawa itu.
“Sepupuku,” jawab Hanif tenang.
“Emang harus, ya, kamu sesering itu jalan sama sepupu kamu itu? terus peluk-pelukan gitu? Setahu aku, sebelumnya kamu gak pernah cerita soal kedekatan kamu sama sepupu mana pun,” Fahmi mulai curiga. Sebelumnya Hanif belum pernah cerita ada anggota keluarga yang begitu dekat dengannya.
Hanif diam.
“Sebenarnya ada apa, sih, Nif?” desak Fahmi.
Hanif menarik nafas dalam-dalam sebelum menjelaskan, mencari kata yang tepat. “Jadi, sepupuku sakit, Mi. Dia konsultasi gitu sama aku. Aku tahu, aku gak pernah deket sebelumnya sama dia. Tapi apa salahnya coba aku ada buat dia, sekedar menguatkan gitu. Lagian cuma aku juga sodara dia satu-satunya.” Jelas Hanif terlihat agak ragu.
Fahmi mengangguk-nganggukan kepala sok ngerti.
Keadaan hening. Lama.
“Kerjain Rima balik, yuk, Nif!” Fahmi tiba-tiba berujar, memecahkan keheningan. Hanif menoleh dan menatap wajah Fahmi yang sudah dihiasi luka memar akibat pukulannya, dengan serius. “Buat dia maafin kamu dengan cara kamu pura-pura....”
“Apa? Gak mau. This is crazy!” pekik Hanif begitu Fahmi menjelaskan rencananya.
“Terlalu sinetron, memang! Tapi aku yakin dia bakal jadi pemeran paling baik.”
“Tahu, ahh!”
*
Hanif menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidurnya. Beberapa titik tubuhnya terasa ngilu. Efek pukulan Fahmi beberapa hari yang lalu masih terasa. Selama beberapa hari ini ia tidak bertemu dengan Fahmi, juga Rima. Sakit yang dideritanya akibat terlalu kelelahan memaksa ia harus beristirahat di rumah dan tidak masuk sekolah. Ia tidak tahu apa Fahmi sudah melakukan rencananya atau belum. Dan ia tidak begitu peduli dengan rencana gila itu.
Tidak ada yang mau pura-pura sakit parah dan tidak akan hidup lebih lama lagi. Entah apa yang sebenarnya sedang terjadi dengan temannya yang satu itu. Yang jelas, ide itu bukan hal yang bagus untuk Hanif. Bukan terlalu sinetron, tapi justru ia tidak ingin hal seperti itu terjadi. Ia yakin, Fahmi mendapatkan ide itu hasil mendengar ceritanya tentang sepupunya itu.
“Hanif!”
Sontak Hanif mengangkat tubuhnya saat suara lembut itu menyapa  telinganya. Dilihatnya Rima berdiri di ambang pintu kamarnya. Wajah cantik itu jelas mengguratkan garis-garis kekhawatiran. Dan ia yakin, Fahmi sudah memulai aksinya.
“Kenapa kamu gak bilang sama aku, Nif!” Rima berlari menubruk tubuh kurus itu. Menjatuhkan diri dalam pelukan Hanif. “Harusnya kamu bilang kalau kamu sakit parah. Aku tidak akan sebodoh itu berakting untuk menyakiti kamu yang jelas sudah sakit. Dasar bodoh!” Rima membiarkan tanganya memukul-mukul dada Hanif pelan. Ia tidak habis fikir dengan jalan fikiran kekasihnya itu.
Hanif memegang tangan Rima untuk menghentikan tindakannya. Masih ada sakit yang tertinggal di bagian itu untuk dipukul meski hanya dengan pukulan pelan. “Aku sayang kamu, Rim. Aku fikir hanya terlalu dramatis kalau aku bilang aku sakit dan hidup aku tidak akan lama lagi,” yang jelas apa yang Hanif paparkan tidak terskenario terlebih dahulu. Ia sedang larut dalam perannya saat ini.
Fahmi yang entah sejak kapan berdiri di ambang pintu, hanya terkikik pelan melihat hal itu. Hanif yang juga melihatnya, menyeringai kesal. Tatapannya tajam. Fahmi berlari meninggalkan tempatnya, dan Hanif mulai menjiwai perannya kembali. Semuanya serba kebetulan.
“Hidup lebih lama untukku!” lirih Rima masih tetap pada posisinya. Ia merasa takut saat ini. Sungguh takut! Apa yang baru didengarnya kemarin seperti hantu paling menyeramkan yang menggentayangi jiwanya setiap saat.
“Kalau saja ini bukan skenario Tuhan, aku akan mengajukan beberapa tawaran agar Ia memberi waktu aku lebih lama lagi!”
Rima tertegun. Air matanya mengalir semakin deras.
*
Hanif berjalan gontai di koridor sekolah. Tubuhnya dibiarkan menempel dengan dinding-dinding kelas yang terasa dingin. Ada denyutan keras di kepalanya, sangat menyakitkan. Matanya seperti diserang asap neraka, panas dan perih. Ia kehilangan keseimbangannya untuk berjalan tegak, sehingga memaksa tembok-tembok bercat hijau cerah itu dijadikan tumpuan menahan tubuhnya.
Setelah berjam-jam dikurung di dalam ruangan musik bersama not-not balok yang entah kenapa tidak bersahabat seperti biasanya, Hanif keluar dalam keadaan setengah sadar. Tubuhnya yang memang belum fit total, berprotes saat ia beraktifitas terlalu over.
“Nif!” Fahmi menepuk pundak Hanif, Hanif menghentikan langkahnya. “Rima masih belum tahu, kan?”
Hanif menggeleng pelan, “belum.”
“Aku fikir, kamu cocok deh jadi aktor, menjiwai peran banget,” puji Fahmi yang hanya diberi senyuman aneh oleh Hanif. “Aku bilang juga apa? cewek itu suka yang dramatis-dramatis, gitu. Akting kamu, sih keren banget sampai si Rima gak sadar kalau sakit kamu cuma bohongan doang,” Fahmi tertawa. Hanif memukul lengannya pelan : dasar gila!
“Jadi?!”
Repleks, baik Hanif maupun Fahmi sama-sama balik kanan saat jeritan itu terdengar. Rima tengah berdiri agak jauh di hadapan mereka. Wajahnya sudah jelas mengekspresikan kemarahan. Ia berjalan mendekati Hanif dan Fahmi yang sama-sama tak berkutik.
“Tega kamu, Nif! Ini lebih jahat dari pada kesalahan kamu waktu itu, tahu, gak? Kamu fikir, enak gitu ditipu kayak gini sampai aku tiap malam nyaris tidak tidur hanya untuk mencemaskan kamu? Dan ternyata ini hanya sandiwara?! Argh!!” Rima menangis.
“Rima, aku tidak berniat membohongi kamu,” Hanif mencoba menjelaskan. Ia menarik Rima ke dalam pelukannya. “Aku gak pernah bohong sama kamu, Rim!”
Rima memberontak, mendorong tubuh Hanif dengan kasar hingga Hanif terhuyung dan hampir terjatuh. Sejurus kemudian ia berlari meninggalkan keduanya. Hanif berusaha mengejar semampunya.
“Nif, sorry!” ujar Fahmi lirih saat ia berhasil mengejar Hanif yang bahkan tidak sampai sepuluh langkah melangkahkan kakinya.
“Aku gak bohong, Mi! Aku gak pernah berakting,” desah Hanif sibuk mengelap darah yang tiba-tiba keluar dari hidungnya, dengan telapak tangannya. “Aku memang sakit!”
BRUK!
“Hanif!”
*
“Jadi, yang sakit itu Hanif? Bukan kamu?” Fahmi berdesis tak percaya. Nada suaranya pelan menegaskan.
Gadis cantik berambut ikal itu bernama Arin. Ia mengangguk pelan. Lugu, anggun, menawan. “Aku juga bukan sepupunya,” ia memainkan ponsel di tangannya.
Mata Fahmi  melebar. Lengkaplah kebohongan Hanif. Tak hanya Rima yang tertipu, tapi juga dirinya.
“Hanif itu pasien ibuku, aku berteman baik dengannya selama satu tahun ini. Dan selama setahun ini kondisi Hanif semakin memburuk. Ibu bilang, Hanif tidak akan sanggup bertahan lebih lama lagi. Makanya akhir-akhir ini aku selalu ingin menghabiskan waktu dengannya.”
Suasana hening. Fahmi mencari sesuatu dalam saku baju dan celananya. Yang dicari tidak ada. Ia baru ingat, ia belum pulang ke rumah, pakaiannya pun masih seragam sekolah.
“Kamu membutuhkan ini?” dengan tenang Arin menghadapkan ponsel yang sedari tadi digenggamnya. “Tapi orangtua Hanif sudah ditelepon lebih dulu oleh ibuku.”
“Aku ingin menghubungi seseorang,” kata Fahmi meraih telepon genggam berwarna putih polos itu. “Boleh aku memakainya?”
Arin tersenyum dan mengangguk.
Fahmi menjauh. Setelah memencet nomor yang dihafalnya luar kepala, ia mendekatkan handphone itu ke telinganya. Dadanya berdebar menunggu Rima mengangkat teleponnya.
“Siapa?”
Suaranya serak. Dapat dijamin Rima sudah atau mungkin masih menangis seharian ini. Fahmi merasa bersalah dengan semuanya.
“Aku Fahmi, Rim. Hanif di rumah sakit, dia sakit beneran.”
“Kamu fikir, aku mau tertipu untuk kedua kalinya? Tidak! Bilang sama Hanif, aku tidak mau bertemu dengan dia lagi. Aku ingin dia pergi jauh-jauh dari hidupku! Usah ganggu aku lagi!”
Suara Rima melengking kesal. Tapi ada tangisan lirih di baliknya. Fahmi terdiam dalam renyuhan. Dan tanpa ada yang tahu, saat kata-kata itu terlontar, ada rintihan panjang di ruangan pucat itu.
Hanif membuka mata. Tapi ia merasa dengan pulihnya kesadaran itu, ada sakit yang menghantam tubuhnya dengan keras. Tangannya yang terhubung dengan selang infus repleks memegang dadanya kuat-kuat. Ia merasa ada semacam dinamit berduri yang menyumbat dalam paru-parunya dan siap diledakkan kapan saja. Ia kesulitan bernafas, masker oksigen tidak berpengaruh untuknya.
“HANIF!”
Hanif sudah hampir kehilangan seluruh nyawanya saat seseorang memekik keras dan berlari menghampirinya. Fahmi yang juga mendengar jeritan histeris itu, segera menoleh ke arah ruang rawat Hanif. Dokter beserta pasukannya tergesa memasuki ruangan itu.
“Tarik ucapanmu atau kamu akan menyesal, Rim!”
Sambungan teputus!
“Hanif kenapa?”
Arin yang sempat masuk ke dalam ruangan itu, dan memanggil dokter, tertunduk gelisah di tempatnya tadi. Ia menggeleng lesu.
Fahmi duduk di sampingnya. Menunggu orang-orang berseragam putih di dalam sana selesai menangani Hanif. Orangtua Hanif yang baru saja tiba langsung mengerubuni Arin, juga Fahmi, dengan pertanyaan-pertanyaan perihal kondisi Hanif. Dan hanya gelengan pelan yang mereka lontarkan untuk menjawab semua pertanyaan itu.
Meski dipaksa, tetaplah jantung itu sudah terlalu lelah untuk berdetak dan bekerja kembali. Sudah saatnya ia berhenti dalam istirahat panjang.
Pintu ruangan itu terbuka. Mereka semua berdiri menyambut dokter dan pasukannya.
“Segala sesuatu yang kita miliki itu, milik Tuhan, kan? Dan Tuhan boleh mengambilnya kapan saja.”
Tanpa memberikan pertanyaan lagi, kata-kata dokter itu sudah cukup membuat mereka mengerti. Orangtua Hanif menerobos masuk ke dalam ruangan dan segera memeluk jasad putih pucat yang sudah ditutupi kain itu. Dan entah untuk alasan apa, Arin tiba-tiba memeluk Fahmi dengan erat. Fahmi membatu.
“Hanif pernah bilang, kekuatannya selama ini adalah cinta. Cinta yang membuat ia tidak pernah mau berpaling hati kepada siapa pun. Cinta yang membuat ia menolakku berkali-kali untuk menjadi kekasihnya. Cinta itu tak pernah kuketahui siapa. Yang Hanif bilang, cinta itu bernama Rima.”
*
Rima menangis pilu. Bantal yang sedari tadi dijadikannya benaman, sudah tak mampu lagi menampung air matanya. Dadanya dipenuhi polutan penyesalan kali ini.
“Bilang semua ini hanya sandiwara, Hanif!” Rima mengangkat tubuhnya. Melempar ponsel yang digenggamnya.
Pesan singkat yang diterimanya beberapa saat yang lalu dari Fahmi, seperti jarum-jarum kecil yang ditusukkan secara perlahan-lahan ke dalam hatinya. Ia sakit luar biasa.
“Rima, sumpah demi Tuhan, Hanif sudah tidak ada. Kamu boleh bersyukur karena Tuhan telah mengabulkan do’amu.”
Rima menangis histeris mengingat isi pesan itu. “Maafkan aku, Hanif!” ia meraih bingkai foto berukuran 40x35 cm di meja belajarnya. Mendekap erat bingkai dengan ornamen kerang-kerang kecil itu di dadanya. Hanif terasa begitu dekat dengannya.
“Rima,” seseorang memeluk Rima erat.
Rima berbalik, menatap lirih orang yang saat ini masih mempertahankan pelukannya. “Boleh aku menyesal, Ros?”
“Menyesal untuk memperbaiki kesalahan, Rim! Hanif selalu mencintaimu, tanpa kuperlihatkan hatinya padamu, aku yakin hanya ada nama kamu di dalamnya, tidak ada yang lain!”

Koneksi Antar Materi Modul 3.1 - "Pengambilan Keputusan sebagai Pemimpin Pembelajaran"

    Pada hakikatnya, dalam membuat keputusan, kita sebagai pemimpin seyogjanya harus mengutamakan nilai-nilai kebajikan dan kebutuhan pesert...